Tular Sudarmadi: Bukan Peninggalan Sejarah, Tapi Warisan Budaya

605
Kaprodi Pariwisata UGM, Dr. Tular Sudarmadi, M.A. menilai, hendaknya masyarakat dilibatkan dalam pengelolaan situs purbakala. Jangan sampai mereka hanya mendapat sisa, sekadar menjadi juru parkir atau pun pedagang asongan di tanahnya sendiri. Foto: Maulana
Kaprodi Pariwisata UGM, Dr. Tular Sudarmadi, M.A. menilai, hendaknya masyarakat dilibatkan dalam pengelolaan situs purbakala. Jangan sampai mereka hanya mendapat sisa, sekadar menjadi juru parkir atau pun pedagang asongan di tanahnya sendiri. Foto: Maulana

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Dr. Tular Sudarmadi, MA yang diwawancarai KAGAMA kali ini merupakan pria asli Jogja dengan segudang pengalaman.

Tular muda masuk dan mulai berkuliah di UGM pada tahun 1983.

Masuk sebagai mahasiswa Arkeologi, dia ditutut untuk banyak membaca literatur kuno.

Saat itu menurutnya akses literatur untuk mahasiwa tidak sebaik hari ini.

Sehingga dalam prosesnya dia harus berburu dan mencari secara manual literatur yang dibutuhkan.

Dia juga mengingat gedung yang  dia gunakan sebagai ruang kuliah dulunya terlihat kuno.

Kini gedung-gedung di area FIB telah dibangun dengan lebih megah dan tertata rapi, menurutnya.

Baca juga: Krisdyatmiko: Selain Masyarakat, Alumni PSdK Juga Harus Sejahtera

“Dari segi mencari buku jaman dulu susah, karena kuno-kuno enggak ada ebook. Dulu kuliahnya masih pakai papan tulis. Mahasiswa sekarang serba mudah kalau mau cari referensi,” kenang Tular.

“Dulu susah. Jadi, dosen satu-satunya yang memegang kekuasaan di perkuliahan karena dia kan yang punya akses. kalau sekarang dosen hanya sebagai pendamping dalam mengentaskan pencarian ilmu mahasiswa,” ucapnya kepada KAGAMA.

Selain menimba ilmu di kelas, Tular semasa mahasiswa juga aktif di Himpunan Mahasiswa Arkeologi dan UKM Marching Band.

Di Marching Band, dia memainkan instrumen Bass Drum.

“Kalau mau pentas jadwalnya ya padat. Banyak anak saintek yang ‘gugur’ ya karena gak bisa ikut latihan. Mereka ada jadwal praktikum. Soalnya kalau mau pentas latihan bisa dari jam 6 sore sampai 9 malam,” jelas Tular.

“Dulu namanya Drum Band. Bass drum yang Saya pegang karena kayak keren aja. Bisa ke mana-mana waktu itu, gak harus ikut barisan,” ujar Tular berkisah

Pada 1989, setelah enam tahun berkuliah di UGM, akhirnya Tlulur lulus dengan nilai yang cukup memuaskan.

Baca juga: Jusuf Kalla, Pria Romantis yang Tak Ucapkan ‘I Love You’ kepada Istrinya