Tren Industri Pangan Berbasis Maritim dan Cara Memasarkan Produknya

49
Alumnus Fakultas Teknologi Pertanian UGM angkatan 1984, Agus Nuruddin, membabar potensi industri pangan berbasis maritim. Foto: Mytrip
Alumnus Fakultas Teknologi Pertanian UGM angkatan 1984, Agus Nuruddin, membabar potensi industri pangan berbasis maritim. Foto: Mytrip

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Data dari Kementerian Perikanan dan Kelautan tahun 2020 menunjukkan bahwa produksi ikan sebelum pandemi meningkat.

Namun, begitu pandemi Covid-19 datang, produksi kemudian menurun, termasuk nilai tukarnya.

Pada 2018, kontribusi perikanan laut cenderung rendah dibandingkan perikanan darat.

“Kontribusi masyarakat terkait budidaya perikanan air tawar sebesar 1,5 juta rumah tangga lebih. Sedangkan budidaya perikanan air laut sebesar 600 ribu lebih rumah tangga,” ujar alumnus Fakultas Teknologi Pertanian UGM angkatan 1984, Agus Nuruddin.

Hal tersebut dia sampaikan dalam acara diskusi Integrasi Potensi Pangan Berbasis Maritim di Indonesia, yang digelar oleh KAGAMA Teknologi Pertanian secara daring pada Jum’at (18/9/2020).

Baca juga: Bisa Gantikan Energi Fosil, Begini Peluang dan Tantangan Riset Pengembangan Bahan Bakar Nabati

Produksi ikan, kata Agus, masih terus mengalami kenaikan. Secara spesifik kenaikan ini ditunjukkan dengan pertumbuhan konsumsinya yang masih di atas 6 persen dalam 6 tahun terakhir.

Menurutnya, perikanan merupakan sektor yang sangat menjanjikan, karena sampai pada 2019, GDP Indonesia stabil di angka 5-5,3.

Kemudian angka konsumsi perkapitanya di atas 50 kg per kapita pada tahun 2019. Jika tidak ada pandemi, kata dia, diharapkan naik menjadi 54 kg per kapita.

“Potensi perikanan Indonesia itu besar. Sayangnya konsumsi ikan oleh masyarakat masih rendah, terutama masyarakat Pulau Jawa, terutama Jawa Tengah dan DIY.”

“Sementara di negara tetangga, seperti Malaysia, konsumsi perkapita ikan sudah lebih dari 80 kg perkapita.”

Baca juga: Bisa Timbulkan Penyakit, Begini Cara Menangani Limbah Budidaya Ikan