Trauma Saat Anak-anak Sebabkan Gangguan Kepribadian pada Wanita

49
Wanita dengan gangguan kepribadian, salah satunya dilatarbelakangi trauma semasa anak-anak. Foto: liputan6.com
Wanita dengan gangguan kepribadian, salah satunya dilatarbelakangi trauma semasa anak-anak. Foto: liputan6.com

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Menurut catatan Komnas Perempuan pada 2016, kasus kekerasan terhadap perempuan selalu meningkat tiap tahun.

Kekerasan yang paling sering terjadi yakni kekerasan di lingkungan personal.

Hal tersebut dapat terjadi karena faktor kepribadian individu yang tidak stabil, selain karena faktor ekonomi dan hukum.

Temuan lainnya dalam catatan ini adalah baik pelaku maupun korban memiliki empat ciri, yaitu tingkah laku impulsif, emosi yang tidak stabil, dan hubungan interpersonal yang tidak baik.

Empat ciri di atas lantas disederhanakan Christine Wibhowo dengan istilah kepribadian ambang.

Bahkan, mengutip para pakar, seseorang dengan kepribadian ambang juga ditandai aktivitas seksual tidak aman dan upaya bunuh diri.

Secara singkat, kepribadian ambang adalah gangguan dengan kriteria ketidakstabilan dalam hubungan interpersonal, citra diri yang kabur, serta impulsivitas yang dimulai ketika masa dewasa atau telah berumur 18 tahun.

Baca juga: Mendidik Anak SD Agar Tidak Obesitas

Adapun menurut salah seorang ahli, 75 persen penderita kepribadian ambang adalah wanita.

Beberapa penelitian yang sudah dilakukan menunjukkan keterkaitan antara trauma masa kanak-kanak dan kepribadian ambang.

Bahkan, dalam penelitian terdahulu (2015), Christine menemukan korelasi antara trauma masa anak dan kepribadian ambang di angka 0,3 yang menunjukkan adanya hubungan kuat.

Namun, kini Christine menduga bahwa ada faktor selain trauma masa kanak-kanak yang menyebabkan perempuan hidup dengan kepribadian ambang.

Faktor yang dimaksud adalah hubungan romantis.

Dalam hal ini, hubungan romantis diartikan dengan kelekatan hubungan yang berjenjang seiring bertambahnya usia.

Jika saat anak-anak kelekatan ditinjau dari kedekatan dengan orang tuanya, maka ketika dewasa jarak dengan pasangannya yang menjadi tolok ukur.

Baca juga: Peneliti UGM Kembangkan Prototip Baterai Nuklir Tahan 40 Tahun