Termotivasi Rojo Lele dan Uang Lecek

21
Hidup Johanes Bambang Kendarto mengalir dan pensiun tanpa ada masalah. Foto : Fajar/KAGAMA
Hidup Johanes Bambang Kendarto mengalir dan pensiun tanpa ada masalah. Foto : Fajar/KAGAMA

KAGAMA.CO, JAKARTA – Setiap orang pasti mempunyai cara tersendiri dalam membangkitkan motivasi dan semangat dalam diri guna meraih kesuksesan.

Bagi mantan Komisaris Independen Bank Mega, Johanes Bambang Kendarto, pengalaman masa kecilnya telah memacu dirinya untuk bekerja keras dan meraih karier tertinggi di dunia perbankan.

Anak kelima dari 13 bersaudara ini hidup dalam keluarga yang sederhana.

Ayahnya hanya seorang pegawai negeri Badan Penyelenggara dan Penelitian Sosial (BPPS) Departemen Sosial di Yogyakarta, sedangkan sang ibu terpaksa jualan serabutan di pasar Bringharjo guna membantu perekonomian keluarga.

Tinggal bersama keluarga besar di Harjowinatan, Pakualaman, dalam komplek keluarga, Kendarto kecil terkesan dengan kemapanan kehidupan keluarga paman dan bibinya yang bekerja sebagai pegawai bank.

“Komplek rumah itu milik Mbah, di situ juga ada rumah Pakde, Bulik, dan rumah keluarga saya.”

“Ada Om saya bekerja di Bank BNI 46 Yogyakarta dan istrinya jadi pegawai di Bank Bapindo.”

“Keluarga mereka hidup mapan, mereka biasa makan beras Rojo Lele, sedangkan keluarga kami makan beras biasa atau beras jatah,” kenangnya.

“Lalu sepupu saya, mereka kerap mendapat uang jajan sebanyak Rp5 dan uang selalu baru.”

“Sementara saya hanya mendapat uang jajan Rp1 dan uangnya selalu kumal, lecek.”

“Hal itu memunculkan tekad, saya tak mau menjadi pegawai negeri.”

“Kelak saya harus menjadi pegawai bank saja sebab uangnya pasti selalu baru,” kenang Kendarto kala bertemu KAGAMA.

Ketika bersekolah di Sekolah Menengah Atas (SMA) 1 Yogyakarta, dia sengaja memilih masuk jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) meski sebenarnya ia mampu mengambil jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

“Buat apa susah-susah jurusan IPA, lebih enak di jurusan IPS saja,” ungkap ayah dari dua orang anak ini.

Kala lulus SMA, Kendarto melanjutkan studi ke Universitas Gadjah Mada (UGM) di tahun 1974.

Kala itu ia memilih Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen.

“Saya memilih manajemen karena paling gampang studinya dan bisa cepat lulus, cepat kerja, lalu bisa meringankan ekonomi keluarga, serta membantu adik-adik untuk melanjutkan pendidikan.”

“Jadi pertimbangan saya sederhana saja.”

“Saya tak mau gagah-gagahan, misalnya pilih akuntansi, sekolahnya lama,” tutur Kendarto.

Lulus kuliah di tahun 1978, Kendarto berlabuh ke Bank Ekspor Impor Indonesia (Exim) pada September 1978.

Ia pun menjalani pendidikan management trainee di Makassar selama setahun dan setelah itu diangkat
sebagai pegawai.

Lantas dia pindah di Jakarta kemudian ke Pontianak.

Tak lama ia menjalani pendidikan sebagai treasury di Singapura selama sembilan bulan.

Kembali ke Jakarta, dia menjadi trader Bank Exim.

Tahun 1986, Kendarto ditugaskan ke Bank Exim di London, Inggris.

Dari London, dia dipindahkan ke Paris, Prancis, untuk menyiapkan cabang Bank Exim di sana.

Ia pun kembali ditugaskan menjadi trainee, kali ini dia ditempatkan di Credit Lyonnais Bank selama satu tahun.

“Setelah itu, membuka cabang Bank Exim di Paris, saya pun menetap di Prancis selama tujuh tahun.

“Dari Prancis, saya ditugaskan menjadi kepala cabang Bank Exim di Hong Kong.”

“Tahun 1998, ketika krisis moneter di Indonesia, saya ditarik pulang,” tutur Kendarto.

Ia dipercaya sebagai Kepala Divisi Treasury.

Tak lama, Kendarto diangkat menjadi Direktur Bank Exim.

Tahun 1999, Bank Exim dilebur bersama Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, serta Bank Pembangunan
Indonesia menjadi Bank Mandiri.

Dia ditunjuk sebagai Senior Executive Vice President Bank Mandiri.

Lantas, dari tahun 2003 hingga 2007, Kendarto menjabat posisi Direktur Bank Mandiri.

Tak lama, selepas dari Bank Mandiri, dia dipercaya sebagai Direktur Bank Mega.

“Setelah dua tahun, saya ditunjuk sebagai Direktur Utama hingga 2013.”

“Saya minta kepada pimpinan untuk lengser karena saya mau menebus “dosa” terhadap keluarga.”

“Selama bekerja waktu saya untuk keluarga sangat sedikit.”

” Apalagi usia saya sudah di atas 60 tahun, fisik dan stamina sudah berkurang,” ucap pria yang sempat ditunjuk sebagai Komisaris Independen Bank Mega itu.

“Bila menengok perjalanan hidup, saya merasa bersyukur.”

“Hidup mengalir saja, saya pensiun dengan selamat dan tidak ada masalah.”

“Obsesi masa kecil saya pun sudah terpenuhi, kini di dompet saya selalu ada uang baru,” pungkas Kendarto seraya tersenyum. (Jos)