Tawarkan Solusi Perikanan Indonesia, Mahasiswa UGM Raih Penghargaan Internasional

98
Adanya gap antara potensi dan produksi perikanan inilah yang kemudian mendorong lima mahasiswa UGM untuk mencari solusi. Foto: Humas UGM
Adanya gap antara potensi dan produksi perikanan inilah yang kemudian mendorong lima mahasiswa UGM untuk mencari solusi. Foto: Humas UGM

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Sebagai negara maritim, Indonesia memiliki potensi sektor perikanan 65 juta ton pertahun.

Namun produksi perikanan baru sebesar 33,4 juta ton, hasil budi daya 24 juta ton dan 9,4 juta ton hasil tangkap.

Adanya gap antara potensi dan produksi perikanan inilah yang kemudian mendorong lima mahasiswa UGM untuk mencari solusi.

Kelima mahasiswa tersebut yaitu Azellia Alma Shafira (Manajemen 2016), Katya Dara Ozzilenda Soegiharto, Ryan Wiratama Bhaskara (Teknik Mesin 2014), Muhammad Adlan Hawari (Elektronika dan Instrumentasi 2015), dan Fakhrudin Hary Santoso (Perikanan 2015).

Setelah melalui proses riset sejak 2015, mereka berhasil menciptakan inovasi teknologi perikanan berbasis Internet of Thinking (IoT).

Banoo berhasil meraih penghargaan People’s Choice Award Winner dalam 2019 Cisco Global Problem Solver Challenge. Foto: Humas UGM
Banoo berhasil meraih penghargaan People’s Choice Award Winner dalam 2019 Cisco Global Problem Solver Challenge. Foto: Humas UGM

Karya yang diberi nama Banoo tersebut berhasil meraih penghargaan People’s Choice Award Winner dalam 2019 Cisco Global Problem Solver Challenge.

Banoo berhasil menjadi pemenang setelah menyisihkan ribuan proposal yang masuk ke pihak penyelenggara.

“Dari ribuan itu, masuk ke 36 semi final dan lanjut ke 10 finalis,” terang Azellia Alma Shafira, ketua tim Banoo UGM kepada Kagama, Selasa (18/6/2019).

Perlombaan internasional tersebut digelar oleh Cisco Systems Inc., perusahaan global dalam bidang telekomunikasi yang bermarkas di San Jose, California, Amerika Serikat.

Banoo menjadi satu-satunya pemenang dari Asia Tenggara dan mendapat pendanaan sebesar  US $10,000.