Tata Kelola Sistem Produksi Pangan Kunci Wujudkan Jargon ‘Forest For Food’

58
Fakultas Kehutanan UGM menyerukan adanya pengembalian posisi sumber daya hutan sebagai sistem penyangga kehidupan. Foto: Ist
Fakultas Kehutanan UGM menyerukan adanya pengembalian posisi sumber daya hutan sebagai sistem penyangga kehidupan. Foto: Ist

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Fakultas Kehutanan UGM menyerukan adanya pengembalian posisi sumber daya hutan sebagai sistem penyangga kehidupan. Namun, memiliki fleksibilitas terhadap perkembangan peradaban manusia.

Pemaparan ini disampaikan oleh Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Dr. Budiadi, S.Hut., M.Agr.Sc., dalam acara Rapat Senat Terbuka Dies Natalis UGM ke-57, yang digelar secara daring beberapa waktu lalu.

“Pertama, terkait seruan tentang pentingnya mengedepankan fungsi sosial dari hutan, yang telah digaungkan dengan program kehutanan sosial. Dukungan terhadap kehutanan sosial sejalan dengan visi kerakyatan dari UGM sebagai universitas ndeso,” jelasnya.

Kebijakan kehutanan sosial, kata Budi, dituliskan dalam Permen No.83 Tahun 2016 dan telah disepakati untuk diwujudkan. Namun, sampai saat ini realisasi dan manfaatnya belum begitu terlihat.

Realisasi alokasi perhutanan yang seluas 4,2 juta ha, masih jauh dari targetnya yaitu, 12,7 juta ha

Baca juga: Kisah Alumnus Gizi dan Kesehatan UGM Berkarier di NGO, Dituntut Lincah dan Multitasking

Tantangan lain adalah sulitnya implementasi program pada level mikro, karena beragamnya kondisi biofisik, sosial, dan ekonomi masyarakat petani.

Kedua, soal dirkusus kebangkitan kejayaan kehutanan Indonesia. Generasi rimbawan yang telah berubah perlu menjadi kesadaran bersama.

Rimbawan zaman dulu, kata Budi, masih menggunakan cara pandang eksploitatif dan melihat sumber daya hutan dengan romantisme zaman emas hijau, yang faktanya telah bergeser.

“Pun demikian, generasi milenial harus paham bahwa, sumber daya hutan pernah menjadi motor penggerak pembangunan di era 1970-1990-an. Kejayaan kehutanan perlu dibangkitkan lagi sebagai salah satu penopang kehidupan manusia di bumi.”

“Namun, jangan hanya memandang sumber daya hutan sebagai komoditas yang bisa dieksploitasi. Oleh sebab itu, komoditas hasil hutan yang dimanfaatkan harus berorientasi pada material unggul, yang memiliki nilai tambah tinggi.”

Baca juga: Ade Siti Barokah Bercerita soal Problem yang Dihadapinya saat Dampingi Kelompok Marjinal