Tanya Jawab tentang Rasisme dan Diskriminasi Papua

3485
Berikut pandangan Bambang Purwoko, Ketua Gugus Tugas Papua (GTP) UGM terhadap isu rasisme dan diskriminasi mahasiswa Papua. Foto: Dok Pri
Berikut pandangan Bambang Purwoko, Ketua Gugus Tugas Papua (GTP) UGM terhadap isu rasisme dan diskriminasi mahasiswa Papua. Foto: Dok Pri

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Belakangan ini isu rasisme dan diskriminasi Papua kembali mencuat. Ada persepsi negatif dan anggapan bahwa mahasiswa Papua sebagai sumber masalah. Berikut pandangan Bambang Purwoko, Ketua Gugus Tugas Papua (GTP) UGM.

 

Apa pendapat Anda tentang munculnya kembali isu rasisme dan diskriminasi terhadap mahasiswa Papua?

Harus dibedakan antara rasisme dan persepsi tentang rasisme. Kadang-kadang sesuatu yang bukan rasis, dianggap sebagai rasis.

Tetapi rasisme bisa dilakukan oleh kelompok masyarakat mana saja. Tidak hanya dilakukan oleh orang Jawa terhadap mahasiswa Papua misalnya, tetapi bisa juga oleh orang Papua terhadap orang Jawa.

Juga harus dibedakan antara diskriminasi dan penerimaan sosial kelompok masyarakat yang satu terhadap kelompok masyarakat yang lain. Ketika satu kelompok masyarakat tertentu tidak bisa sepenuhnya menerima kedatangan kelompok masyarakat lain, tidak bisa dikatakan sebagai sikap diskriminasi. Harus dilacak akar masalahnya.

Kalau sekarang tiba-tiba hangat, sangat mungkin bahwa itu adalah bagian dari “perjuangan” untuk mengangkat kembali isu rasisme dan diskriminasi untuk kepentingan politik tertentu, yang dilakukan oleh aktivis gerakan politik Papua.

Baca juga: Alumnus HI UGM Angkatan 1989 Dilantik Jadi Staf Ahli Kemenko Marves

Bagaimana Anda menyikapi hal ini?

Secara positif hal ini bisa kita anggap sebagai sesuatu yang bagus. Ini perlu untuk menyadarkan kita semua, apapun latar belakang agama ataupun kesukuan kita, untuk bisa lebih toleran dalam kata-kata dan tindakan. Jangan hanya manis di mulut tapi busuk di hati.

Pengalaman saya dan beberapa teman dari GTP UGM berdialog dengan tokoh dan warga masyarakat (Dusun Jetis desa Wedomartani, Dusun Onggomertan Desa Maguwoharjo) dua tahun lalu, rasisme terhadap mahasiswa Papua dan diskriminasi memang nyata ada dalam kata-kata dan tindakan mereka.

Sungguh sangat menyakitkan ketika kami harus mendengar pernyataan keras yang rasis dan diskriminatif dari saudara-saudara kita di Jogja, padahal sebagian mereka juga sama-sama pendatang di Jogja.

Apa yang sebaiknya harus dilakulan?

Hal semacam ini secara sosial menjadi “PR” atau pekerjaan rumah yang harus kita benahi. Harus dibangun komunikasi dan sosialisai yang baik agar ada persepsi yang benar terhadap saudara-saudara kita dari Papua. Agar ada penerimaan yang baik terhadap kehadiran mahasiswa Papua di Jogja. Ini menjadi PR kita.

Selain itu juga ada PR untuk saudara-saudara kita mahasiswa Papua. Para mahasiswa sebagai kelompok intelektual adalah duta atau utusan yang mencerminkan masyarakat Papua secara luas. Apa yang dilakukan mahasiswa Papua di Jogja memberi gambaran tentang keseluruhan masyarakat Papua.

Buktikan bahwa mahasiswa Papua di Jogja adalah pembelajar yang baik: rajin belajar, disiplin, tekun, tepat waktu. Buktikan bahwa mahasiswa Papua di Jogja bisa berperilaku sopan, hidup damai dengan lingkungan, tidak suka membuat keributan.

Buktikan bahwa mahasiswa Papua datang ke Jogja benar-benar datang untuk kuliah, bukan gemar demo politik kibarkan bendera melawan negara.

Baca juga: PapuanLivesMatter?