Perguruan tinggi dituntut dapat mengembangkan pendidikan yang responsif untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja trampil sesuai dengan dunia industri.

Demikian mengemuka dalam diskusi bertajuk Menjawab Tantangan Sektor Jasa Indonesia yang diselenggarakan FEB UGM, Kantor Staf Presiden Republik Indonesia bekerja sama dengan Organization for Economic Cooperation and Development  (OECD), di FEB UGM Jum’at (9/3)

Dosen Ilmu Ekonomi FEB UGM, Gumilang Aryo Sahadewo menyebutkan tenga kerja di Indonesia mengalami mismatch dengan pasar kerja. Salah satunya disebabkan kurangnya relevansi pendidikan di perguruan tinggi  dengan kebutuhan di dunia industri.

“Desain kurikulum yang ada tidak responsif dengan kebutuhan industri. Sebagai penyedia tenaga kerja kurang bisa menyediakan tenaga kerja yang relevan dan skill yang dibutuhkan industri sehingga produktivitasnya rendah,” katanya.