Sutopo, Sosok Gigih Asli Boyolali

80
Sejak Januari tahun 2018 ia mengumumkan bahwa dirinya mengidap kanker paru-paru stadium IV. Foto: Beritagar
Sejak Januari tahun 2018 ia mengumumkan bahwa dirinya mengidap kanker paru-paru stadium IV. Foto: Beritagar

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR –  Dr. Sutopo Purwo Nugroho, M.Si. Kepala Informasi dan Hubungan Masyarakan BNPB menghembuskan nafas terakhirnya Minggu dini hari waktu setempat, di Goangzhou, Tiongkok.

Putra daerah Boyolali kelahiran 7 Oktober 1969 itu merupakan anak tertua dari pasangan Suharsono Harsosaputro dan Sri Roosmandari.

Sejak kecil hingga masa SMA Sutopo habiskan di kampung halamannya Boyolali.

Selepas SMA Sutopo muda memutuskan untuk melanjutkan jenjang pendidikannya dengan berkuliah.

Baca juga: Mengenang Almarhum Sutopo Saat Kuliah di Kampus Kerakyatan

Waktu itu ia sempat kesulitan mencari universitas, karena jalur PMDK atau undang kala itu telah dihapuskan.

Akhirnya ia hanya bisa mendaftar melalui satu jalur, yaitu Tes SIPENMARU atau sekarang lebih dikenal dengan nama SBMPTN.

Dari tes tersebut akhirnya ia berhasil diterima di Fakultas Geografi UGM.

“Itupun dulu agak kesasar karena salah informasi. Pilihan pertama saya sebenarnya di Kedokteran Umum, kedua di Manajemen, nah baru ketiga di Geografi,” tulis Sutopo di unggahan akun Instagramnya tertanggal 26 Mei lalu.

Baca juga: Ditjen PKTrans M. Nurdin: Lulusan Geografi Tidak Bisa Tinggal di Kota Saja

Semasa kuliah Sutopo adalah salah satu mahasiswa berprestasi.

Hal itu ia buktikan dengan berbagai raihan seperti predikat mahasiswa teladan, serta juara lomba karya Inovatif Produktif tingkat nasional.

Ia pun berhasil menjadi lulus termuda dan cumlaude dari Fakultas Geografi UGM di tahun 1993.

Namun, berbagai hal tersebut tak didapat Sutopo dengan mudah.

Ada kalanya ia pernah hampir menyerah dalam pengerjaan skripsinya.

Waktu itu ia kesulitan mengumpulkan data untuk skripsi dan gagal dalam statistik multivariat.

Baca juga: Geografi dalam Era Big Data

“Akhirnya pernah saya tinggalkan skripsi dengan penuh kebingungan. Mau ganti tema juga nanggung, berbulan-bulan tidak ada kepastian dan kemajuan. Orang tua juga mulai bertanya kapan lulus karena biaya SPP adik saya yang kuliah di swasta jauh lebih mahal. Saya terus mengingat orang tua agar membangkitkan semangat belajar,” tulis Sutopo dalam buku catatan tahun 1993 yang ia unggah di Instagramnya 31 Mei lalu.

Ketika lulus dan mengantongi gelar sarjana, Sutopo masih harus berjuang untuk memperoleh pekerjaan.

Dari total 32 lamaran yang ia layangkan ke berbagai instansi kala itu, dua di antaranya ia berhasil diterima.

Sutopo berhasil diterima di BPPT dan PT Sumalindo Lestari Jaya, sedangkan 3 lamarannya di UGM, UMS, dan IPB dibalas berupa surat penolakan.

“Total 25 lamaran saya ditolak,” tulisnya.

Baca juga: Pakar UGM Bicara Soal Pemindahan Ibu Kota Negara

Sutopo menikah dengan Retno Utami Yulianingsih dan dikaruniai dua orang anak.

Sejak Januari tahun 2018 ia mengumumkan bahwa dirinya mengidap kanker paru-paru stadium IV.

Walaupun demikian, Sutopo terus memberikan kemampuan dan dedikasinya secara total dalam menjalankan tugasnya sebagai ujung tombak informasi kebencanaan.

Di sisi lain, ia juga terus memotivasi generasi muda untuk pantang menyerah melalui pengalaman-pengalamannya semasa kuliah dan mencari kerja yang ia unggah di akun media sosial miliknya. (Thovan)