KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Bagi sebagian orang olahraga hanya rutinitas untuk menjaga kebugaran tubuh. Namun bagi Antonius Harya Febru Widodo, olahraga terlebih di lingkungan kampus memiliki dimensi yang berbeda.

KAGAMA mewawancarai Anton, sapaan akrabnya di sela-sela perkuliahan. Ia adalah ketua komunitas supporter Fakultas Filsafat UGM yang bernama Philoscontong.Philoscontong berdiri sejak 2005, dan ditujukan sebagai sarana dukungan untuk tim-tim olahraga dari Fakultas Filsafat.

“Awalnya buat suporteran lah, rame-ramein gelanggang,” ujar mahasiswa kelahiran Sleman ini.

Awalnya Anton mengaku ikut membuat poster-poster dukungan dan ikut datang sebagai suporter di setiap laga. Berkat keterlibatannya tersebut, kini ia menjabat sebagai koordinator Philoscontong.

Anton menceritakan bahwa selama ini untuk menghidupi Philoscontong, komunitas ini rela berjualan kaos dan patungan. “Kita usahakan mandiri, tidak menggantungan diri ke dekanat,” Ujarnya.

Menurut  Anton, terkadang  sumbangan juga didapat dari dosen. Beberapa dosen juga membeli kos yang dijual oleh Philoscontong  guna membantu membiayai komunitas tersebut.

“Lumayan buat beli air minum pas suporteran,” ungkap Anton.

 

Sering Menggelar Diskusi

Ketika disinggung soal apa yang membedakan Philoscontong dengan suporter dari fakultas lain, ia menyebut bahwa komunitasnya berani mengkritik atlet yang mereka dukung. Pihaknya mengaku tak mau mendukung pecundang di lapangan.

“Kita juga kritik atletnya. Mungkin terdengar keras, tapi demi kebaikan dan kemajuan olahraga di Fakultas Filsafat,” tegasnya.

Selain menyuarakan dukungan, Philoscontong juga sering menggelar forum diskusi di kampus. Beberapa hal yang didiskusikan terkait olahraga di kampus, keorganisasian, dan isu lain yang berkembang seputar kehidupan kampus serta mahasiswa.

Di momen Porsenigama seperti sekarang, pihaknya sangat menantikan dukungan materiil dari alumni. Hal itu guna mengembangkan keolahragaan di kampus dan komunitas suporter Fakultas.

“Kami harap tidak hanya dukungan moril, terutama dari alumni Fakultas Filsafat,” papar Anton.

Philoscontong sendiri berharap bahwa stigma tentang supporter filsafat yang rusuh itu hilang. Selain itu, Anton berharap UGM punya Liga antar Fakultas agar kegiatan suporteran tidak hanya terjadi sekali dalam setahun pada saat Porsenigama.(Thovan)