Sumbangsih KAGAMA Wujudkan Reformasi 1998

104

Baca juga: Kisah Sukses KAGAMA Faperta Angkatan 1979, Keluar dari Zona Nyaman dan Berpikir Besar Jadi Kunci

Sebagian mahasiswa mengatakan, demonstrasi yang terjadi beberapa hari terakhir seperti mengulang sejarah 20 tahun lalu, pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto.

Salah satunya aksi #GejayanMemanggil yang dilakukan pada 23 September 2019 lalu.

Menurut mereka, aksi ini mengingatkan pada demonstrasi 8 Mei 1998 di tempat yang sama.

Pemilik akun Twitter @nandammn menjelaskan, Gejayan di tahun 1998 menjadi saksi perlawanan mahasiswa dan masyarakat Jogja terhadap rezim yang represif.

Di tahun 2019, Gejayan kembali memanggil jiwa-jiwa yang resah karena kebebasan dan kesejahteraannya terancam oleh pemerintah.

Diskusi Ahli bertajuk Upaya Mengatasi Krisis Nasional, di Ruang Sidang Program Pascasarjana (PAU). Foto: Istimewa
Diskusi Ahli bertajuk Upaya Mengatasi Krisis Nasional, di Ruang Sidang Program Pascasarjana (PAU). Foto: Istimewa

Baca juga: FK-KMK dan Kagamadok Gelar Konser Amal untuk Bangun Kota Difabel

“Jalan Colombo, Gejayan, Bunderan UGM, Depan Kampus Sanata Darma dan Halaman Rektorat UNY kala itu menjadi saksi sebuah eskalasi gerakan mahasiswa menuntut mundurnya Soeharto pada 8 Mei 1998, dan hari ini mahasiswa kembali merasakan keresahan yang sama #GejayanMemanggil,” tulis pemilik akun @dzikrielasykar.

Merujuk pada buku 7 Windu Sumbangsih KAGAMA Bagi Bangsa dan Negara tahun 2014, krisis multidimensi yang dialami Indonesia pada 1998 mendorong mahasiswa dan dosen melakukan demonstrasi, termasuk di dalamnya sivitas akademika UGM.

Salah satu yang menjadi perhatian KAGAMA pada saat itu adalah upaya menuntut pemerintah melakukan reformasi.

KAGAMA melalui perjalanan panjang dalam memberikan sumbangsihnya untuk mengembalikan stabilitas negara dan lepas dari krisis.

Ada pun sumbangsih yang diberikan berupa gagasan dan kegiatan pengabdian masyarakat.

Baca juga: Seminar Nasional III pra-Munas KAGAMA Soroti Kesehatan Indonesia Hadapi Revolusi Industri 4.0