Sukses Berbisnis Penggilingan Padi, Dofier Bersyukur Pernah Kuliah di Kampus Kerakyatan

98
Aumnus Teknik Pertanian dan Biosistem (TPB) Fakultas Pertanian ini bersyukur ilmu yang didapat dari Kampus Kerakyatan bisa bermanfaat dan menunjang kaiernya. Foto: Ist
Aumnus Teknik Pertanian dan Biosistem (TPB) Fakultas Pertanian ini bersyukur ilmu yang didapat dari Kampus Kerakyatan bisa bermanfaat dan menunjang kaiernya. Foto: Ist

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Begitu lulus kuliah, Dofier Juantoro langsung menjalankan bisnis di bidang produksi kopi.

Tidak puas berwirausaha di satu bidang, alumnus Teknik Pertanian dan Biosistem (TPB) Fakultas Pertanian ini juga merambah ke bisnis produksi benih padi.

Dofier membabar kisahnya dalam menjalankan bisnis di acara Alumni Pulang Kampung yang digelar oleh Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem UGM, secara daring beberapa waktu lalu.

“Saya tertarik memulai bisnis produksi kopi, karena sebelumnya saya melakukan penelitian tentang pengemasan kopi untuk skripsi saya.”

“Di samping fokus berbisnis produksi kopi, saya mulai berbisnis produksi benih padi yang saya awali dengan mempelajari pengemasannya,” ujarnya.

Baca juga: Petani dan Ilmuwan Perlu Gunakan Paradigma Pertanian Baru Demi Ketahanan Pangan

Selain itu, Dofier sehari-hari juga bekerja di sebuah industri penggilingan padi.

Hasil limbah dari pengolahan benih padi di perusahaan tempat dia bekerja, kemudian dia manfaatkan melalui pabrik pengolahan beras miliknya, PB Sido Gangsar, sebuah unit usaha yang dia dirikan di Jember.

“Sektor pertanian di bidang pangan, terutama beras, memiliki potensi besar untuk dikembangkan,” terangnya.

Pabrik pengolahan beras yang dikembangkan Dofier awalnya menggunakan proses pengeringan lantai jemur, sekarang sudah menggunakan mesin pengering.

Dari tahapan pengolahan beras, ada produk samping berupa bekatul, sekam, dan menir.

Baca juga: Hadapi Tantangan Besar, Perusahaan Asuransi Jiwa Harus Lakukan Ini di Masa Pandemi