Strategi Bertahan Kaum Minoritas Syi’ah Rausyanfikr di Yogyakarta

62
Rausyanfikr mendapat penolakan dari kelompok Sunni, karena ajarannya yang dianggap sesat. Foto: rausyanfikr.org
Rausyanfikr mendapat penolakan dari kelompok Sunni, karena ajarannya yang dianggap sesat. Foto: rausyanfikr.org

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Perjalanan Syi’ah dalam sejarah Islam selalu mengalami dinamika yang tidak menyenangkan.

Akidah dan pemahaman berbeda yang dibawa oleh Syi’ah, membuat kelompok ini acap kali mendapat berbagai tentangan dan tekanan dari masyarakat.

Seperti yang kita tahu bahwa mayoritas penduduk Islam di Indonesia adalah Sunni.

Oleh sebab itu, muncullah konflik antara kelompok Sy’ah dan Sunni yang dilatarbelakangi oleh perbedaan aqidah, thariqat, filsafat, dan tasawuf.

Hal ini dialami oleh salah satu kelompok Syi’ah Rausyanfikr di Yogyakarta.

Kelompok Syi’ah ini mendapat tekanan dari kelompok penekan, yakni orang-orang yang tergabung dalam Forum Umat Islam (FUI) dan Front Jihadis Islam (FJI), serta orang-orang yang secara konsisten menekan Syi’ah.

Untuk itu, Siti Noor ‘Aini dalam tesisnya yang berjudul Kelompok Minoritas dan Konflik Sosial (Studi Tentang Strategi Perlawanan Rausyanfikr Dalam Menghadapi Ancaman Kekerasan di Yogyakarta) tahun 2017, berusaha melihat strategi yang dilakukan kelompok Syi’ah tersebut untuk mempertahankan eksistensinya.

Rausyanfikr merupakan lembaga Syi’ah yang berfokus pada gerakan isu strategis, yakni Filsafat Islam dan Mistisisme dari Filosof Muslim Iran.

Pendiri berpendapat bahwa isu-isu ini relevan dengan pengembangan masyarakat Islam di Indonesia, terutama pada intelektualitas dan spiritualnya.

Namun, dalam perjalanannya, Rausyanfikr mendapat penolakan dari kelompok Sunni, karena ajarannya yang dianggap sesat.