Sri Sultan HB X Ingin Kembangkan Manajemen Pendidikan Karakter Berbasis Budaya

71
Pidato penganugeraan gelar Doktor Honoris Causa Sri Sultan Hamengkubuwono X. Foto: Maulana
Pidato penganugeraan gelar Doktor Honoris Causa Sri Sultan Hamengkubuwono X. Foto: Maulana

KAGAMA.CO, YOGYAKARTA – Setelah enam kali meraih gelar kehormatan dari berbagai universitas di dalam maupun luar negeri, kini Sri Sultan Hamengkubuwono X meraih gelar kehormatan untuk yang ke-7 kalinya dalam bidang Manajemen Pendidikan Karakter Berbasis Budaya dari Universitas Negeri Yogyakarta UNY.

Upacara Penganugerahaan ini diselanggarakan pada Kamis (5/9/2019) di Auditorium UNY.

Rektor UNY Prof. Dr. Sutrisno Wibawa, M.Pd sekaligus co-promotor mengatakan, Sultan memiliki sejumlah prestasi akademik, ratusan paper, beberapa buku, serta beberapa kali mengisi seminar dan talkshow di bidang politik, ekonomi, bisnis dan pendidikan.

Ada pun penghargaan yang diperoleh di antaranya pernah menjadi The Most Outstanding People, Adikarya Pangan Nusantara dari presiden, Keamanan Pangan dari Presiden, Bintang Mahaputra Utama dari Presiden, Satya Lencana Pembangunan, dan masih banyak lagi.

Dalam pidatonya, Sultan merujuk pada lukisan  Prof. Abdul Djalil Pirous, Guru Besar ITB yang berjudul The Nightmare of Losing (2010).

Sri Sultan Hamengkubuwono X Ingin Kembangkan Manajemen Pendidikan Karakter Berbasis Budaya. Foto: Maulana
Sri Sultan Hamengkubuwono X Ingin Kembangkan Manajemen Pendidikan Karakter Berbasis Budaya. Foto: Maulana

Baca juga: Dilema Pendidikan Papua

Sultan mendapatkan pesan bahwa “karakter” sejatinya menduduki highest ranking dalam peri kehidupan kita.

“Namun sayangnya, setelah kita terbawa oleh alam bawah sadar, bahwa yang kita percayai adalah betapa sentralnya karakter dalam pembentukan Manusia Indonesia yang ideal, fakta kehidupan yang kita hadapi sehari-hari justru sangat berbalikan dari harapan. Jauh panggang dari api! Orang Jawa mengatakan wayah ing surup. Artinya putaran zaman berada pada masa senja,” ungkap Sultan.

Dikatakan olehnya, orang saat ini tak tahu kapan harus malu, kapan harus bersikap bangga. Orang tak memiliki parameter apapun.

Untuk itu kurikulum pendidikan sebaiknya menggunakan pendekatan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Sultan menjelaskan hal ini bersandar pada konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara (KHD), Tri Sentra.

Baca juga: Siswa Papua Menggapai Asa