Sponsor Utama Kesultanan Demak Bintoro adalah Pria dari Samudra Pasai

45
Ketua LOKANTARA (Lembaga Olah Kajian Nusantara), Dr. Purwadi, M.Hum., mengisahkan sosok pengusaha yang menjadi penyokong Kesultanan Demak Bintoro. Foto: Ist
Ketua LOKANTARA (Lembaga Olah Kajian Nusantara), Dr. Purwadi, M.Hum., mengisahkan sosok pengusaha yang menjadi penyokong Kesultanan Demak Bintoro. Foto: Ist

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Riwayat Majapahit berakhir setelah Brawijaya V tak lagi menjabat sebagai raja pada 1478.

Walau begitu, kejayaannya tetap diteruskan oleh Kesultanan Demak.

Pusaka yang ditinggalkan, seperti Gong Kyai Sekar Delima, Gong Kyai Gunturmadu, dan Gong Guntursari, tetap dijaga dengan baik.

Demikian seperti dituturkan Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara (LOKANTARA), Dr. Purwadi, M.Hum.

Purwadi mengatakan, Gong Kyai Sekar Delima dibunyikan saat perayaan Grebeg Maulid.

Baca juga: Kata Dirut Kimia Farma tentang Peluang dan Tantangan Apoteker di Masa Depan

Sedangkan Gong Kyai Gunturmadu dan Gong Guntursari ditabuh selama tujuh hari di Masjid Agung, pada perayaan yang sama.

Alasan lain yang membuat Purwadi meyakini bahwa Demak adalah kelanjutan dari Majapahit adalah garis keturunan sang raja, Raden Patah (Kanjeng Sultan Syah Alam Akbar Patah Jimbun Sirullah).

“Raden Patah adalah putra Prabu Brawijaya V, Raja Majapahit. Ibunya adalah Putri Cempa atau Ratu Dworowati,” tutur Purwadi, kepada Kagama.

“Sejak kecil Raden Patah belajar agama Islam kepada Aryo Damar di kota Palembang. Dengan demikian Kesultanan Demak Bintoro merupakan kelanjutan dari Kerajaan Majapahit,” terangnya.

Menurut Purwadi, Raden Patah mendirikan Kesultanan Demak atas restu dari Wali Sanga dan dari dukungan para bupati di daerah pesisir.

Baca juga: Bangun Pusat Pelatihan Agribisnis, Bupati Petrus Kasihiw Siap Buat Teluk Bintuni Jadi Sentra Kopi