Sosok yang Gigih dan Tak Pernah Mengeluh Itu Telah Tiada

5346

Baca juga: Pelaku Ekonomi Kreatif NTB Dinilai Ekonom KAGAMA Siap Hadapi Pandemi Covid-19

Dermawan

Suka berbagi merupakan salah satu sikap dari almarhum yang patut diteladani pula.

Dulbahri, kata Nurul, sangat suka bersedekah. Kebetulan Dulbahri menempati sebuah rumah yang letaknya dekat dengan rumah Nurul.

Rumah ini memiliki pekarangan cukup luas yang ditanami buah-buahan.

“Jika panen beliau selalu mampir ke rumah memberikan nangka, rambutan, jambu, mangga, dan sebagainya.”

“Tetapi, selalu saya bagi dengan tetangga-tetangga saya biar nilai barokahnya menjadi banyak,” jelas Nurul.

Selain itu, Dulbahri semasa hidup selalu memberikan semangat kepada juniornya. Almarhum tidak lupa mengingatkan untuk jangan berhutang.

Sebisa mungkin, kita bersyukur dengan apa yang telah didapatkan. Jikalau tak punya uang, tahan rasa keinginan.

“Semoga Allah menempatkan beliau ditempat yang mulia, diampuni dosa dan kesalahan beliau dan diterima semua amal sholeh beliau,” ujarnya.

Baca juga: KAGAMA Sulsel Kembali Wujudkan Kepedulian untuk Melawan Covid-19

Memegang Teguh Ajaran Ki Hajar Dewantara

Di era tahun 80-an dan tahun 90-an, Dulbahri merupakan dosen senior yang mengajarkan teknologi yang sangat canggih dan baru berkembang saat itu, yaitu pengolahan citra staelit digital.

“Pada saat itu memang teknologi ini sedang berkembang selaras dengan perkembangan teknologi hardware berupa komputer desktop, OS, MS-DOS, dan beberapa software pengolah data,” ungkap dosen KPJ UGM, Dr. Taufik Hery Purwanto, M.Si., kolega sekaligus mahasiswanya.

Dikatakan olehnya, Dulbahri mengajarkan koreksi radiometri, koreksi geometri, penajaman, filtering, komposit citra, penisbahan citra, dan sebagainya.

Materi ini menjadi mata kuliah dan praktikum favorit mahasiswa Fakultas Geografi khususnya jurusan Geografi Teknik kala itu.

“Dalam mengajar beliau memegang teguh Semboyan dari Ki Hajar Dewantara yang beliau peroleh ketika mengenyam pendidikan di Taman Madya, terutama tiga semboyan pendidikannya,” tutur Taufik.

Ketiga semboyan tersebut yaitu ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani.

Selama mengajar, Taufik melihat Dulbahri sebagai guru yang disiplin dan tegas dalam mendidik.

Baca juga: Bosan di Rumah? Yuk Ikuti Covid-19 Drawing & Coloring Bocahe KAGAMA!