Sosiolog Kriminal UGM Angkat Bicara Soal Klitih di Yogyakarta

976
Aksi klitih ditunggangi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, sehingga memiliki motif yang beragam seperti pelampiasan kekecewaan di kehidupan sehari-hari. Foto: Drs. Suprapto, SU. Dok FISIPOL UGM
Aksi klitih ditunggangi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, sehingga memiliki motif yang beragam seperti pelampiasan kekecewaan di kehidupan sehari-hari. Foto: Drs. Suprapto, SU. Dok FISIPOL UGM

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Yogyakarta kini tengah diresahkan dengan aksi klitih yang kembali memakan korban.

Terbaru, seorang pelajar SMK berusia 16 tahun bernama Fatur Nizar Rikardio mesti meregang nyawa akibat diserang oleh gerombolan tak dikenal  kala pulang dari bermain di pantai Gunungkidul, Yogyakarta.

Pelaku klitih telah ditangkap dan diamankan di Polres Bantul.

Menurut Kapolres Bantul, AKBP Wachyu Tri Budi Sulistiyono pada Selasa (14/1/2020), motif pelaku yang berjumlah sebelas orang dalam melakukan aksinya adalah iseng.

Para pelaku membawa bungkusan cat dengan tujuan untuk dilemparkan kepada rombongan korban.

Kembali maraknya klitih di Yogyakarta tersebut mengundang salah pakar dari UGM, Drs. Suprapto, S.U. untuk berkomentar.

Dalam rilis terbaru UGM Podcast oleh humas UGM, ahli sosiolog kriminal FISIPOL UGM tersebut membabar perihal klitih.

Baca juga: Ganjar Pranowo Torehkan Prestasi Usai Bawa Jateng Nomor 1 soal Penurunan Kemiskinan

Suprapto menerangkan bahwa ada pergeseran makna kata klitih dari positif ke negatif.

“Sebenarnya klitih itu adalah kegiatan mengisi waktu luang secara positif, misalnya ketika orangtua menunggu waktu menjemput anak di sekolah, mereka melakukan hobi, tetapi ketika diadopsi oleh remaja, mereka menggeser makna kata tersebut,” ucap Suprapto.

Pergeseran tersebut dimulai ketika pemerintah Kota Yogyakarta membuat peraturan yang melarang kegiatan tawuran di sekitar tahun 2007.

Lantaran dilarang tawuran, beberapa pelajar kemudian justru melakukan kegiatan berkeliling untuk mencari musuh.

Selain untuk membalas dendam, kegiatan klitih bergeser pada mencari musuh guna menunjukkan eksistensi.

Lambat laun, kegiatan ini justru ditunggangi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, sehingga memiliki motif yang beragam seperti pelampiasan kekecewaan di kehidupan sehari-hari.

“Saya melihat struktur organisasi mereka berkembang dan selama ini tak hanya di sekitar Kota Yogyakarta, melainkan di beberapa wilayah lain, seperti Sleman dan Bantul,” tutur Suprapto.

Baca juga: Irama Kerja Rock and Roll Antarkan Menteri Basuki Hadimuljono Raih Doktor Kehormatan dari ITB