ADA yang unik dari forum Pertemuan Bulaksumur #2 yang diselenggarakan Pusat Studi Kebudayaan UGM bekerja sama dengan Kantor Wakil Rektor Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UGM, Sabtu (4/8/2018) di Ruang Multimedia Gedung Pusat UGM Bulaksumur Sleman Yogyakarta. Narasumber  Dr. Revrisond Baswir (60) yang tampil sesi kedua bersama Rahmat Setiawan, S.S., M.A., lebih dulu menjajagi audiens, berapa orang yang studi di Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM dan berapa orang yang sudah pernah membaca buku Profesor Mubyarto.

Tenyata tidak ada seorang pun yang mengacungkan telunjuk. Artinya, semua peserta diskusi bertajuk “Pemikir dan Pemikiran Kebudayaan yang Berpengaruh”, yang berjumlah lebih dari 100 orang tidak kuliah di FEB UGM. Kemudian, hanya satu-dua orang yang mengaku sudah pernah membaca buku Prof. Mubyarto. Alhasil, Revrisond yang akrab dipanggil Sony, hanya bercerita seputar interaksi dan komunikasinya dengan mendiang penggagas Ekonomi Pancasila itu.

Sony mengungkap, Fakultas Ekonomi awalnya hanya memiliki empat jurusan, yaitu Akuntansi, Manajemen, Ilmu Ekonomi, dan Ekonomi Pertanian. Prof Muby merupakan dosen jurusan Ekonomi Pertanian yang lulus meraih gelar Doktor dari Iowa State University, Amerika Serikat yang termasuk guru besar termuda pada masa itu.

“Sejauh yang saya kenal sebagai asisten beliau selama sepuluh tahun, Mubyarto tak pernah meraih jabatan birokratis di Fakultas. Beliau hanya Kepala Pusat Studi Kawasan dan Pedesaan dan Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila,” papar putra Minang dari Payakumbuh, Sumatera Barat yang masuk FE UGM angkatan 1978.

Menurut Sony, ia termasuk yang terlambat menetapkan pilihan jurusan dan sengaja menunda mengambil jurusan, sehingga ia mengambil banyak mata kuliah dibandingkan kawan seangkatan. Baru pada akhir tahun kedua, Sony mengambil jurusan dan memutuskan yang praktis, yaitu akuntansi. Pilihan itu ditetapkannya juga lebih intuitif lantaran ia jatuh cinta pada kawannya satu jurusan.