Solusi Gubernur Rohidin untuk Minimkan Kontak Fisik dalam Transaksi

40

Baca juga: Kedatangan Menlu Retno di Yogya Annual Art #5 Membuat Butet Kartaredjasa Menangis

“Sehingga masyarakat, baik penjual maupun pembeli dapat dengan mudah melakukan transaksi yang aman di masa Covid-19 ini,” jelas alumnus Fakultas Kedokteran Hewan UGM tersebut.

Rohidin menambahkan, dalam kesempatan ini sudah ada 70 pedagang sayur keliling yang telah menggunakan QRIS.

Pria 50 tahun itu pun mengapresiasi kerja sama Bank Indonesia dan Bank Bengkulu yang mendukung program BERIJO.

Menurutnya, agar program ini berhasil, masyarakat hendaknya diberikan instrumen peralatan dan regulasi pendukung.

Selain itu, masyarakat juga memerlukan edukasi  untuk menjembatani perubahan kebiasaan transaksi konvensional atau tunai ke transaksi nontunai atau secara digital.

Baca juga: Cornelis Lay Berpulang, Celengan Bambu dari Kupang Jadi Kenangan

“Selain mempermudah akses masyarakat dalam bertransaksi, program ini selaras dengan program Pemerintah,” kata Rohidin.

“Yakni untuk memperluas akses keuangan para pelaku usaha, serta meningkatkan produktifitas dan efektivitas di masa new normal Covid-19 ini,” terang Ketua Umum Pengda KAGAMA Bengkulu ini.

Untuk dikethui, Bank Indonesia dan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) meluncurkan QRIS pada 17 Agustus 2019.

QRIS diluncurkan untuk menyeragamkan QR Code yang dipakai oleh seluruh penyedia dompet digital.

Pemerintah mewajibkan penggunaan QRIS secara nasional sejak 1 Januari 2020.

Dengan menggunakan QRIS, pembeli tinggal memindai QR Code penjual yang telah terdaftar sebagai merchant untuk melakukan pembayaran. (Ts/-Th)

Baca juga: Upaya Dirjen KSDAE Selamatkan Harimau Sumatera dari Kepunahan