SELEPAS dari SMA, karena dari jurusan IPA, Yerikho Setyo Adi saat itu mengidealkan bisa kuliah di Fakultas Kedokteran atau minimal masih di bidang keilmuan saintek (sain dan teknologi). Maka, ia pun memilih Kedokteran saat mengisi formulir SNMPTN. Hasilnya, ternyata gagal. Dari kegagalan itu Yerikho mulai menimbang kembali keinginannya untuk melanjutkan studi yang ternyata lebih cenderung tertarik pada ilmu sosial, khususnya Hubungan Internasional.

Yerikho masih memiliki kesempatan melalui SBMPTN. Ia pun pindah haluan, dari IPA beralih ke IPS, ilmu sosial. Pilihannya pun sudah mantap di Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) UGM. Terbukti kemudian, pilihan Yerikho tidak salah. Ia diterima di Jurusan HI FISIPOL UGM. Dan, boleh jadi, karena sudah passion-nya yang kuat, maka tidak kesulitan saat menyusun skripsi. Hanya empat bulan, dimulai dari Februari skripsinya berhasil diselesaikan pada Mei. Ia mengerjakan tentang pembayaran pajak bidang-bidang strategis, seperti tambang tapi membayar pajaknya malah kecil. Ia menyukai topik seperti itu. “Jadi, enjoy dan mengerjakannya bisa cepat dan maksimal,” ucapnya.

Bahkan, Yerikho pun tercatat sebagai mahasiswa yang mampu menyelesaikan studi dalam waktu  tersingkat untuk Program Sarjana untuk pelaksanaan Wisuda Periode IV Tahun Akademik 2016/2017. Yerikho Setyo Adi berhasil menyelesaikan studi dan lulus dalam waktu 3 tahun 2 bulan 24 hari.

Yerikho mengungkap, ia memang tertarik dengan isu finansial negara dan internasional tapi dari kacamata hubungan internasional. Karena, ia melihat keadaan di mana banyak negara dengan sumberdaya kecil tapi maju dan finansialnya stabil. Sedangkan pada negara Indonesia, meski sumberdaya banyak tapi mengapa tidak bisa maju? Mengapa kalah dengan negara lain yang tidak mempunyai sumberdaya sebesar Indonesia Dari kacamata hubungan internasional, finansial negara tidak hanya dilihat dari aspek ekonomi saja,  tapi juga diplomasi. Ketertarikan utama di situ, memberikan peran dalam perekonomian Indonesia dengan melakukan international relations things.

Selain itu, dari pengalaman pribadi, sebagai aisec president ia sering membantu orang exchange tapi ia sendiri malah belum pernah exchange. Alhasil, ia ingin exchange supaya memiliki pengalaman. Selain itu, juga exchange untuk mencari sekolah yang ada mata kuliah yang berhubungan dengan perekonomian negara. Karena di HI UGM itu belum banyak dan pengetahuan belum luas, jadi ia mengambil jurusan itu.

“Sebenarnya KNU (Kyungpook National University), Korea itu bukan apply yang pertama. Sempat daftar tapi karena buru-buru dan ngasih daftar TOEFL yang sudah kadaluarsa.  Waktu seleksi ke Korea ini yang bener-bener serius nyiapinnya. Dari exchange ini belajar banyak hal, terutama hal yang mendukung kemajuan Negara,” ujarnya.

Menurut Yerikho, salah satu keunggulan bangsa Korea adalah integritas mereka di negaranya yang sangat kuat. Jika ada seorang mahasiswa yang memberi sesuatu, semisal kopi kepada dosen saja bisa dikategorikan penyuapan. “Jadi, hubungannya memang satu arah. Senioritas tinggi, tapi malah bisa melihat banyak hal dari sisi yang berbeda,” tambahnya.

Dari pengalamannya menjadi aisec president juga membuat belajar memimpin sesuai kebutuhan, treatment sesuai orangnya, dan belajar memenuhi target. Membangun pemahaman bersama, tidak berbeda jauh dengan tujuan kelimuan Hubungan Internasiona FISIPOL UGM. Supaya ada kesepemahaman dan kesepakatan yang sama.

Lalu,bagaimana ia akan mengaplikasikan kelimuannya? Yerikho berncana  bekerja pada sebuah  consultant firm. Tapi, saat ini ia tengah mencari pengalaman dan portofolio di salah satu start up yang membahas soal pembangunan dan peningkatan finansial.

Mengabdikan Ilmu pada Masyarakat

Nathaniel Andika Putra, selepas dari Fakultas Farmasi UGM. pria asal Solo, Jawa Tengah ini ingin mengabdikan ilmunya kepada masyarakat (Foto Desti/KAGAMA)
Nathaniel Andika Putra, selepas dari Fakultas Farmasi UGM. pria asal Solo, Jawa Tengah ini ingin mengabdikan ilmunya kepada masyarakat (Foto Desti/KAGAMA)

Berhasil menyelesaikan studi di UGM tentu sangat membahagiakan. Pun, bagi Nathaniel Andika Putra, dari Fakultas Farmasi. Selepas dari Kampus Biru, pria asal Solo, Jawa Tengah ini bisa mengabdikan ilmunya kepada masyarakat. Sementara bila ditarik lagi ke belakang, ia merefleksikan kehidupannya sebagai mahasiswa, terutama di Fakultas Farmasi, sebagai dunia yang sangat menyenangkan. Ia banyak memiliki teman, terutama perempuan. Juga, kegiatan praktikum yang cukup padat, sangat berkesan baginya.

Garini Puwara Santi yang berhasil lulus dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) punya pengalaman menarik juga. Ia awalnya tidak tahu persis bagaiaman cara belajar sebagai mahasiswi di FKH UGM.  Ternyata sejak dari  awal semester atau tahun-tahun pertama, ia sudah banyak lemburan kuliah. Bisa dibilang hanya di FKH yang sedikit-sedikit membuat laporan, praktikum, ataupun pre test. Bisa dibilang juga, sistem kuliahnya semi militer.

“Kita seperti paketan. Jadi, sampai akhir padat banget. Empat tahun cepat, nggak terasa,” ungkap Garini yang lebih menyukai pet, seperti anjing kecil.

Garini Puwara Santi berhasil menyandang gelar sebagai Sarjana Kedokteran Hewan setelah melewati suka duka saat menempuh studi Program Sarjana di FKH UGM (Foto Desti/KAGAMA)
Garini Puwara Santi berhasil menyandang gelar sebagai Sarjana Kedokteran Hewan setelah melewati suka duka saat menempuh studi Program Sarjana di FKH UGM (Foto Desti/KAGAMA)

Kelak, ia ingin menjadi praktisi. Mungkin ia akan menjalani magang. Ketika koas ia mendalami lagi. Ia mengaku masih banyak yang harus dilakukan, belum mencapai tujuan akhir sehingga masih harus berjuang. Ia juga harus menjalani koas lagi.

“Seneng sih (lulus), tapi walau saya anak terakhir, juga nggak bisa langsung pol bahagia karena semua sudah mentas. Karena, masih harus koas lagi. Ya, masih ada yang harus dilakukan lainnya,” cetusnya.

Garini yakin, setiap perjuangan akan ada hasilnya dan pasti diberikan yang terbaik. Kalaupun muncul keluhan, hal itu wajar namun jangan menjadikan seseorang menyerah. [Desti]