Siswa Papua Menggapai Asa

357
Pengetahuan dan keterampilan mereka, sangat jauh tertinggal dibanding anak-anak seusia mereka di luar Papua, apalagi jika dibanding anak-anak kita di Jogja. Foto: Bambang
Pengetahuan dan keterampilan mereka, sangat jauh tertinggal dibanding anak-anak seusia mereka di luar Papua, apalagi jika dibanding anak-anak kita di Jogja. Foto: Bambang

Oleh: Bambang Purwoko (Gugus Tugas Papua UGM)*

Kedatangan

Senin sore kemarin saya menerima enam siswa lulusan SMP dari pegunungan Papua. Mereka baru saja menempuh perjalanan sangat panjang, melelahkan, tetapi juga menggairahkan.

Beberapa minggu lalu, ada di antara mereka yang harus berjalan kaki beberapa hari untuk sampai ke distrik Ilaga, bergabung dengan teman-temannya untuk melanjutkan perjalanan meraih asa.

Dari distrik ibu kota Kabupaten Puncak di pegunungan Papua itu, enam anak didampingi seorang guru turun ke Kota Timika dengan pesawat perintis, untuk selanjutnya terbang ke Jogja dengan Garuda Indonesia.

Meskipun sebagian mereka sudah pernah naik pesawat kecil sebagai satu-satunya sarana transportasi antar distrik (kecamatan) di sana, tak ada satupun yang pernah terbang jauh ke luar daerahnya, apalagi sampai ke pulau Jawa. Banyak di antara siswa-siswa di Papua yang mengira bisa berjalan kaki untuk pergi ke Jawa.

Bangunan sekolah dan ruang-ruang kelas sekolah itu terlihat sangat anggun dan asri. Foto: Bambang
Bangunan sekolah dan ruang-ruang kelas sekolah itu terlihat sangat anggun dan asri. Foto: Bambang

Baca juga: Dilema Pendidikan Papua

Keenam anak yang masih berusia 15-16 tahun itu adalah siswa-siswa terbaik lulusan SMP di Kabupaten Puncak, Papua. Para siswa kelas 3 SMP ini adalah generasi awal yang sudah merasakan sentuhan pendidikan oleh para guru GPDT (Guru Penggerak Daerah Terpencil) yang didatangkan Pemda bekerja sama dengan Gugus Tugas Papua Universitas Gadjah Mada (GTP UGM).

Mereka diseleksi dari ratusan dan kemudian menjadi puluhan siswa SMP dari Distrik Ilaga, Sinak, dan Beoga.

Seleksi dilakukan untuk memastikan bahwa siswa yang akan melanjutkan sekolah di Jogja adalah mereka yang memiliki kesiapan intelektual, kesiapan sosial, dan tentu saja kesiapan mental. Nilai raport, nilai ujian nasional, dan nilai hasil tes menjadi persyaratan penting.

Lebih dari itu, para siswa itu juga harus memenuhi syarat mutlak lain: tidak merokok, dan tidak pernah minum (minuman beralkohol).

Baca juga: Pertengahan Tahun ini, Internet Berkecepatan Tinggi Akan Sampai ke Papua

Dengan bantuan dana hibah dari Pemda, mereka dikirim untuk melanjutkan pendidikan tingkat SMA di Jogja. Mereka siap menggapai asa, menjadi pelopor dan pejuang pendidikan untuk kemajuan Papua.