Konteks sosial yang mendorong diselengarakannya program PTM yakni pada awal tahun 1950, Indonesia yang sebelumnya berbentuk RIS, kembali menjadi NKRI sehingga beberapa pihak di Republik Indonesia merasa perlu menyelenggarakan pendidikan di daerah-daerah terpencil. Hal ini didukung dengan euforia Pasca  Konferensi Meja Bundar yang membuat harapan rakyat untuk hidup merdeka dan bangkit begitu besar.

Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri, S.H., ML. (dua dari kiri) dalam sebuah acara..(Foto: Dok. Majalah Balairung)
Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri, S.H., ML. (dua dari kiri) dalam sebuah acara..(Foto: Dok. Majalah Balairung)

Akan tetapi, keinginan tersebut sulit diwujudkan, karena pemerintah belum memiliki cukup guru. Selain jumlahnya yang masih terbatas, banyak guru yang gugur dalam mempertahankan kemerdekaan RI.  Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan guru, pada tahun 1951 UGM mulai menerjunkan mahasiswanya.

Mereka diberi tugas untuk mengajar dan mendirikan sekolah lanjutan tingkat atas (SMA) di sejumlah kota di luar pulau Jawa yang jauh dari pusat kekuasaan. Koesnadi merupakan salah satu pencetus program PTM. Oleh karenanya, ketika sudah menjadi dosen ia menyelenggarakan program serupa yang diberi nama KKN.[Venda]