‘Si Majnun’ Pakar Gunung Berapi Telah Tiada

250
Prof. Dr. Kirbani Sri Brotopuspito. Foto: Taufiq
Prof. Dr. Kirbani Sri Brotopuspito. Foto: Taufiq

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Prof. Dr. Kirbani Sri Brotopuspito meninggal di usia 70 tahun.

Sosok kelahiran Klaten, 9 Februari 1949 ini meninggalkan istri dan empat orang anak.

Profesor yang dikenal sebagai ahli gunung berapi ini, mengawali pendidikan tingginya di Jurusan Fisika UGM tahun 1967, hingga jenjang doktoral di kampus yang sama.

Semasa kuliah, Guru Besar Ilmu Geofisika UGM ini dijuluki oleh teman-temannya sebagai “Si Majnun.

Memangnya kegendengan apa yang ia lakukan?

Usut punya usut, ia yang waktu itu dikenal sebagai orang yang kikuk dengan urusan asmara, ujug-ujug di tahun ketiga kuliah, justru naik ke pelaminan.

Mengenai hal itu, Kirbani pernah berbagi kisah masa mudanya kepada KAGAMA pada September 2018 lalu.

Ia mengenang, kala itu nekat nikah muda karena merasa sudah punya penghasilan yang cukup.

Sejak tahun kedua kuliah, Kirbani sudah mendapatkan beasiswa ikatan dinas.

Prof. Dr. Kirbani Sri Brotopuspito meninggal di usia 74 tahun. Foto: Humas UGM
Prof. Dr. Kirbani Sri Brotopuspito meninggal di usia 74 tahun. Foto: Humas UGM

Selain kisah nikah muda, yang paling ia kenang semasa kuliah ialah masa-masa menjelang ujian.

Beberapa dosen waktu itu punya kebijakan, apabila kinerja mahasiswa di kelas dan pengerjaan tugasnya baik, maka ia boleh tidak mengikuti ujian.

Jadi tak heran Kirbani dan teman-temannya saling berlomba mencuri perhatian sang dosen agar dibebaskan dari ujian.

Misalnya dengan pagi-pagi sebelum dosen masuk kelas, mereka berlomba menulis di papan tulis, jawaban kuis yang kemarin diberikan sang dosen.

Kirbani pun pernah merasakan dua bulan tak ikut kuliah karena sudah dianggap lulus berkat kinerjanya.

Meski demikian masa kuliahnya relatif lama, yakni tujuh tahun!

Pascalulus ia langsung jadi pengajar, dan mulai banyak melakukan penelitian mengenai gunung berapi, terutama Gunung Merapi.

Dalam hidupnya, gunung Merapi memang seperti teman hidup yang selalu mendampingi Kirbani.

Di tanah kelahirannya, Klaten, sejak kecil Merapi adalah kawan setia yang menemani Kirbani tumbuh berkembang.

Jika ia memandang persawahan, maka akan tampak sang ‘kawan’.

Mendaki Merapi juga menjadi kegemarannya di masa sekolah menengah.

Setelah kuliah di Jurusan Fisika, ia makin tahu bahwa ilmu Fisika dapat ia gunakan untuk menjelaskan fenomena-fenomena mengenai gunung berapi.

Misalnya aliran magma yang dapat dijelaskan dengan teori-teori aliran fluida dan termodinamika.