Kegiatan wajib SKJ ini diadakan tiap jumat pagi. Di FNT penggagasnya ialah Pembantu Dekan III, Ir. Samsudin. Sebenarnya SKJ tiap jumat pagi merupakan hal yang lazim diadakan di lingkungan UGM kala itu. Namun baru di FNT yang melibatkan mahasiswa.

Duduk perkaranya memang keharusan mahasiswa untuk mengikuti SKJ tersebut. Setiap kegiatan itu berlangsung, ada presensi yang harus diisi mahasiswa. Selain itu, SKJ juga jadi syarat bagi mahasiswa baru yang ingin memperoleh jaket almamater. Padahal di fakultas lain, jaket dibagikan kepada mahasiswa baru tanpa syarat. Oleh karena itu kebijakan SKJ dianggap memaksa bagi banyak mahasiswa FNT.

Ir. Samsudin jadi sasaran kritik gara-gara SKJ.(Foto: Dok. Majalah Balairung)
Ir. Samsudin jadi sasaran kritik gara-gara SKJ.(Foto: Dok. Majalah Balairung)

Misalnya menurut mahasiswa Teknik Mesin ’84 yang namanya minta disamarkan ini—Balairung menyebutnya Budi. Kepada Balairung ia mengaku, ikut senam karena takut nilainya bermasalah.

“Terus terang, saya ikut senam karena takut kalau ada apa-apanya dengan nilai saya,” ungkap Budi. Tak beda jauh dengan Budi, Heri (nama samaran) juga ikut senam karena takut. “Kalau saya ikut senam karena takut enggak dapat jaket,” terang teman sejurusan Budi ini.

Lalu menurut Budi, akibat program senamisasi tersebut, ada yang memberikan gelar kepada Ir. Samsudin sebagai “Bapak Senam FNT”.