KAGAMA.CO, BULAKSUMUR-Saat ini, dalam statuta UGM tercatat memiliki 18 Fakultas dan 2 Sekolah. Sekolah Pascasarjana dan Sekolah Vokasi.

Sekolah Vokasi secara resmi berdiri pada 2009. Sebelumnya, tahun 1992 Program Diploma mulai masuk ke Fakultas masing-masing. Antara lain Fakultas Non Gelar Teknologi (FNGT) yang berdiri sejak 1982 mulai bergabung ke Fakultas Teknik, dan Pendidikan Ahli Administrasi Perusahaan (PAAP) yang bergabung ke Fakultas Ekonomi.

“Sejarahnya panjang sekali. Semua lulusannya oleh UGM masuk KAVOGAMA (Keluarga Alumni Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada).”

Demikian disampaikan Dekan Sekolah Vokasi UGM Wikan Sakarinto, S.T., M.Sc., Ph.D. saat Temu Alumni Sekolah Vokasi UGM di Hall Perpustakaan Sekolah Vokasi pada Sabtu (15/09/2018). Acara ini bertajuk “Sinergitas Penguatan Teaching Industry Sekolah Vokasi UGM Menyongsong Era Revolusi Industri 4.0, Peran dan Kontribusi Alumni Sekolah Vokasi”.

Berlangsung secara kekeluargaan, Temu Alumni kali ini merupakan yang kedua kali diadakan. Sebagaimana Wikan, Ketua KAVOGAMA H. Mas Yanto Herlianto juga menyampaikan dalam sambutannya bahwa KAVOGAMA merupakan perkumpulan alumni yang besar.

“Karena menyatukan berbagai alumni antara lain mulai dari PAAP (Pendidikan Ahli perusahaan), FNGT (Fakultas Non Gelar Teknologi), FNT (Fakultas Non Gelar Teknik), FNE (Fakultas Non Gelar Ekonomi), D3 Teknik, D3 Ekonomi dan Sekolah Vokasi yang terdiri dari 26 Prodi,” ujarnya.

Keluarga Alumni Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada.(Foto: Taufiq)
Keluarga Alumni Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada.(Foto: Taufiq)

Temu Alumni kali ini dihadiri oleh Alumni Sekolah Vokasi lintas angkatan, dari angkatan 1979 (PAT) sampai angkatan 2013. Turut hadir dalam acara Direktur Kemitraan, Alumni, dan Urusan Internasional UGM Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc. mewakili Wakil Rektor bidang Kerja Sama dan Alumni Dr. Paripurna, SH, M.Hum., LL.M, jajaran dekanat Sekolah Vokasi, serta Ketua masing-masing Departemen.

Paduan Suara Mahasiswa dan sajian musik turut menyemarakkan acara, selain Talk Show Alumni dan pemberian Beasiswa KAVOGAMA Award kepada para mahasiswa berprestasi dan kurang mampu.

Dalam kesempatan tersebut, Wikan membabar capaian Sekolah Vokasi di depan para hadirin. Penyuka olah raga tenis ini menceritakan perjuangan Sekolah Vokasi dalam melintasi zaman, dan menyiapkan generasi masa depan.

Wikan bercerita, pada kurun 2011-2012, kondisi Sekolah Vokasi begitu memprihatinkan. Selain diragukan oleh kalangan eksternal, civitas akademiknya pun mengalami krisis percaya diri. Aksi turun ke jalan kerap terjadi.

Mahasiswa Diploma Sekolah Vokasi merasa kehilangan haknya lantaran program alih jalur ditutup. Infrastruktur pendidikan kurang representatif. Selain itu, secara kualitas juga dinilai masih kurang. Perbandingan antara pengajar dan mahasiswa timpang.

Dengan kecintaan pada almamaternya itulah, Wikan beserta jajarannya banyak menerapkan resep inovatifnya hingga Sekolah Vokasi maju sepesat kini. Banyak kerja sama nasional maupun internasional yang dijalin, baik dari institusi maupun kalangan industri.