KAGAMA.CO, YOGYAKARTA – Sekaten yang hadir setiap tahunnya menjadi ciri khas tersediri bagi kota Jogja. Tidak hanya dinikmati oleh wisatawan dan penduduk Jogja, Sekaten juga menjadi magnet tersendiri bagi mahasiswa perantauan.

Di antara mereka ada yang menikmati Sekaten sebagai sarana rekreasi murah, sekadar cari jajanan dan memadu kasih. Namun, ada juga yang datang dengan tujuan khusus, berburu awul-awul.

Awul-awul adalah istilah umum yang digunakan di Jogja untuk merujuk pakaian dan barang sandang bekas yang diperjualbelikan. Di Sekaten sendiri banyak kios-kios yang mengkhususkan berjualan beraneka ragam pakaian bekas. Kebanyakan baju bekas tersebut didapat pedagang dengan Impor dari luar negeri.

Status sebagai barang bekas tidak menghalangi banyak orang untuk memburunya. Hampir semua jenis pakaian ada di sana, mulai dari anak-anak sampai dewasa, bahkan ada setelan jas serta gaun pesta.

KAGAMA mengikuti Raja yang beranjak menuju Alun-alun Utara Jogja mengunjungi Sekaten. Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM tersebut mengaku kecandauan dengan awul-awul.

Selain murah, ia mengaku kerap kali menemukan pakaian-pakaian bermerek ternama di tumpukan aneka macam pakaian bekas tersebut. “Sejak awal kuliah mulai suka ngawul, lumayan lah, ngirit juga,” Ujar Raja.

Walaupun demikian, ia mengungkapkan bahwa tidak mudah mencari dan memilah pakaian bekas. Beberapa kali dia mengaduk-aduk dan belum juga menemukan pakaian yang sesuai.

Raja bercerita bahwa ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam demi memilah dan mencari pakaian bekas yang cukup bagus. “justru di sini seninya. Ini pakaian bertumpuk-tumpuk, banyak yang gak layak pakai juga jadi ya pintar-pintar milah,” katanya menerangkan.