Segudang Dimensi Sindung Tjahyadi, Sempat Disangka Ingin Jadi Dukun

490
Sindung bahkan sempat disangka ingin menjadi dukun karena masuk Jurusan Filsafat. Foto: Taufiq
Sindung bahkan sempat disangka ingin menjadi dukun karena masuk Jurusan Filsafat. Foto: Taufiq

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Menjadi dosen dan mengemban jabatan struktural tak melulu menghambat kreasi dan hobi.

Menekuni keduanya secara beriringan adalah jalan hidup bagi Dr. Sindung Tjahyadi, M.Hum.

“Di Subdit Organisasi dan Fasilitas Mahasiswa, Direktorat Kemahasiswaan, ya. Kantor Pusat Universitas, sayap utara, sisi barat Balairung. Masuk saja lewat pintu U1 – 23,” jawab pria yang sering dipanggil Sindung itu saat dihubungi sebelumnya.

KAGAMA cukup beruntung, dengan segala kesibukannya di Universitas serta beberapa komunitas, Sindung Tjahyadi, akhirnya dapat ditemui di kantornya Selasa sore lalu.

Kantor yang ia tempati cukup sederhana, hanya bilik yang dibuat dengan menyekat ruangan lain.

Baca juga: Sindung Tjahyadi Perankan Mpu Gandring dalam Ketoprak Dies UGM ke-68

Ukurannya pun hanya sekitar 3×3 meter persegi dengan beberapa rak berdiri di sisi kanan dan kriri.

Dengan perawakannya yang agak besar, ruangan itu tampak terlalu sempit.

Di wajah Sindung tak terlihat tanda-tanda kelelahan, padahal jam kantor telah usai dan harusnya ia sudah bersiap pulang.

Ketika wawancara akan dimulai, salah satu rekan kerjanya tiba-tiba datang dan bertanya.

“Pak Sindung, Saya mau pulang kuncinya saya tinggal atau bagaimana ini?” Ucap temannya dari depan pintu.

Maklum, sore itu Sindung adalah orang terakhir di kantor yang harus tetap tinggal untuk meladeni sederet pertanyaan dari KAGAMA.

Dengan sigap Sindung mempersilakan rekannya tersebut untuk pulang dengan membawa kunci kantor, karena ia membawa kunci cadangan.

Setelah membereskan sisa pekerjaan, dengan senyum khasnya ia mempersilakan wawancara dimulai.

Memerankan Semar, saat Pentas Ambal Warsa UKJGS ke-49. Foto: Istimewa
Memerankan Semar, saat Pentas Ambal Warsa UKJGS ke-49. Foto: Istimewa

Ingin Jadi Kriminolog

Sindung kecil lahir 55 tahun yang lalu di Jalan Tamrin, kota Madiun, namun semenjak menginjak usia sekolah hingga SMA ia tinggal di Magetan.

Di kota yang terletak di antara gunung Wilis dan Lawu itu, Sindung mengaku banyak mendapat kemewahan budaya serta tradisi.

Semenjak kecil ia terbiasa menyaksikan banyak seni pertunjukan seperti wayang, ludruk, wayang wong, dan orkes Melayu.

Ia meyakini kekayaan tradisi di dearahnya sebab persilangan budaya Jawa Tengah dan Jawa timur.

Daerah Magetan yang secara administratif terletak di wilayah Provinsi Jawa Timur memang berbatasan langsung dengan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Sindung mengaku sejak kecil senang menyaksikan banyak pertunjukan wayang.

Di eranya, wayang menjadi pertunjukan mewah bagi anak desa seperti dirinya.

“Sering ada wayang, apalagi musim kemarau seperti sekarang ini. Setiap momennya membekas sekali, misalnya sendal saya hilang saat nonton wayang, lalu ibuk saya marah marah. Melekat betul momen tersebut,” ucapnya sambil sesekali matanya melirik ke atas, mengingat masa lalu di Magetan.

Baca juga: Selamatkan Nusantara Lewat Wayang Gajah Mada

Menginjak SMA, Sindung yang ketika itu duduk di kelas IPA justru bercita-cita untuk menjadi kriminolog.

Namun keinginan itu harus ia pendam karena untuk berkuliah di Jurusan Kriminologi, ia harus merantau ke Jakarta.

Waktu itu hanya Universitas Indonesia yang membuka Jurusan Kriminologi.

Setelah berbagai pertimbangan, ia mengurungkan niat tersebut.

Baginya, Jakarta terlalu jauh dan menyeramkan bagi anak desa seperti dirinya.

Ketika lulus dari SMA tahun 1983, Sindung memilih mendaftar ke UGM melalui jalur PP1 dan diterima di Jurusan Filsafat.

“Waktu itu saya tertarik juga Psikologi Unair dan Filsafat. Akhirnya saya keterima di Filsafat UGM. Daftar jalur PP1 sampai PP4 saya nyantolnya di sini. PP1 di Filsafat,” kisah Sindung.

Dari satu angkatannya di SMA, hanya 8 orang yang memutuskan kuliah di Jogja.