KAGAMA.CO, BULAKSUMUR—Menginap di kampus bagi mahasiswa tahun 90-an merupakan hal yang lumrah. Salah satu fakultas yang kerap diinapi oleh mahasiswa antara lain Fakultas Sastra (kini bernama Fakultas Ilmu Budaya/FIB). Kala itu mahasiswa FIB banyak yang berkumpul dengan rekan-rekan satu jurusan atau BSO (Badan Semi Otonom/UKM Fakultas).

Beberapa mahasiswa merasa perbedaan jurusan maupun banyaknya kegiatan BSO yang diikuti membuat integritas mereka terhadap fakultas berkurang. Mereka lalu berinisiatif untuk membuat wadah bagi para mahasiswa lintas jurusan, BSO, maupun yang tidak tergabung dalam BSO tertentu untuk mengekspresikan diri sebagai wujud integritas terhadap fakultas.

Sastroe Ndaloe tidak sekadar melakukan kegiatan demi kesenangan diri sendiri. Hal itu bisa dibuktikan dari adanya pameran produk Sastro Ndaloe yang dibuka untuk masyarakat umum.(Foto: Dok. Balairung)
Sastroe Ndaloe tidak sekadar melakukan kegiatan demi kesenangan diri sendiri. Hal itu bisa dibuktikan dari adanya pameran produk Sastro Ndaloe yang dibuka untuk masyarakat umum.(Foto: Dok. Balairung)

Mereka lalu mendirikan komunitas baru bernama Sastro Ndaloe (Sandal).  Ndaloe dalam bahasa Jawa berarti malam. Komunitas Sastro Ndaloe merupakan komunitas Non-BSO yang memulai aktifitasnya di Fakultas Sastra di malam hari.