Sapardi Djoko Damono Wafat, Indonesia Kehilangan Pujangga Romantis Jebolan UGM

421

Baca juga: Strategi Agar Koperasi Mampu Bersaing dan Berkelas Dunia

Dari situ muncullah kalimat sederhana, tetapi membentuk puisi yang kuat nan menggugah.

Pembaca akan hanyut  dalam khayalan visual yang sublim, lirih, dan hidup.

“Prosesnya cepat sekali. Bahkan, saya sendiri kaget. Hingga berkeringat dan gemetaran waktu menulisnya,” kata Sapardi, mengungkapkan proses penciptaan sajak Aku Ingin.

“Setelah selesai, saya merasa menemukan imaji yang sulit sekali didapatkan. Saya sadar, mungkin saja sajak ini akan jadi terkenal,” jelasnya, melansir Kompas.

Di luar aktivitas sebagai dosen dan sastrawan, Sapardi aktif berorganisasi.

Baca juga: Dubes RI untuk Tiongkok: Indonesia Harus Terapkan Strategi Komunikasi dan Promosi Wisata yang Berbeda Saat Normal Baru

Pria kelahiran 20 Maret 1940 ini pernah menjadi anggota Badan Pertimbangan Balai Pustaka Jakarta (sejak 1987), dan anggota Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI).

Pada 1988, Sapardi mendirikan Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia dan menjadi ketua selama tiga periode.

Selama hidup, berbagai penghargaan nasional dan internasional pernah disabet oleh sang maestro.

Dua di antaranya Cultural Award dari Pemerintah Australia (1978) dan Kalyane Kretya dari Menristek RI (1996). (Ts/-Th)

Baca juga: Separuh Wilayah Purworejo Dulunya adalah Semarang Suwung