Sapardi Djoko Damono Wafat, Indonesia Kehilangan Pujangga Romantis Jebolan UGM

421

Baca juga: Benarkah Kebun Sawit Penyebab Kerusakan Hutan Dunia?

Pekerjaan profesional pertamanya adalah dosen di IKIP Malang Cabang Madiun (1964-1968).

Di sana, anak dari pasangan Sadyoko dan Sapariah ini diamanahi pula sebagai Ketua Jurusan Bahasa Inggris.

Selanjutnya, Sapardi pindah ke Universitas Diponegoro pada 1968 untuk menjadi dosen tetap di Fakultas Sastra-Budaya.

Enam tahun berselang, sulung dua bersaudara tersebut hijrah ke Depok untuk menunaikan tugas baru sebagai dosen Sastra Indonesia Universitas Indonesia.

Karya-karya buah pikir dari Sapardi terkenal romantis, sarat makna, dan membius.

Baca juga: Jelang Idul Adha, Kemenhub Lepas Kapal Ternak dengan Rute Baru untuk Dukung Swasembada Pangan

Puisinya juga disebut beberapa pihak memiliki kesamaan dengan persajakan Barat pada abad ke-19.

Beberapa puisi terkenalnya itu seperti Perahu Kertas (1983), Aku Ingin (1989), Hujan Bulan Juni (1994), dan Arloji (1998).

Sebagian puisinya bahkan dibuat musikalisasi. Beberapa novel juga lahir sebagai produk dari imajinasinya.

Terbaru, dia menulis Yang Fana adalah Waktu (2018). Dalam Harian Kompas, 17 Februari 2008, Sapardi mengaku mendapat inspirasi penulisan dari benda-benda yang ada di sekitarnya.

Dia menggunakan pendekatan anak kecil dalam melihat benda, sehingga akan tampak aneh dan berbeda.

Baca juga: Mandiri Pangan dengan Beternak Ikan ala Pakar Perikanan UGM