BULAKSUMUR, KAGAMA – Teknologi komunikasi dua arah yang menggunakan gelombang elektromagnetik bisa mengalami gangguan. Timbulnya gangguan biasanya jika terdapat frekuensi sama dengan pemancar lain. Kondisi ini sering mengakibatkan komunikasi menjadi macet karena frekuensi yang padat.

Di sisi lain, Radio Direction Finder konvensional yang biasa digunakan untuk mencari pemancar pengganggu masih dilakukan secara mobilitas direct sehingga harus melakukan swap berkali-kali sampai menemukan posisi sumber sinyal yang dicari.

Timbulnya permasalahan itu memotivasi Samuel Kritiyana, S.T., M.T., melakukan penelitian hingga mengantarkannya meraih gelar Doktor pada Program Pascasarjana Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM).

Samuel meneliti pelacakan posisi sumber sinyal frekuensi radio berbasis efek Doppler dan metode multi-triangulasi. Dalam penelitiannya, ia berupaya menemukan sistem pelacak sumber sinyal tanpa melakukan mobilitas. Yakni, menggunakan metode pelacakan sumber sinyal dengan pengembangan efek Doppler yang diterapkan pada lebih dari tiga statisun pemantau tidak bergerak yang telah ditentukan posisi koordinatnya.

“Hasilnya berupa visualisasi titik koordinat posisi sumber sinyal frekuensi radio yang dicari dengan akurasi ketelitian sudut seperseratus derajat. Hasil ini diperoleh dari perpotongan tiga garis arah datangnya sinyal frekuensi terhadap tiga stasiun pemantau tidak bergerak,” ungkap Samuel pada ujian  terbuka program doktor Program Pascasarjana Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi FT UGM, Kamis (6/7/2017).

Samuel menambahkan, pengolahan data dengan metode multi-triangulasi menghasilkan prediksi titik posisi koordinat dari sinyal pemancar dan visualisasi pada peta digital. Sedangkan ketelitian sudut yang dihasilkan meningkat dari 22,5 derajat menjadi seperseratus (0,01) derajat.

Selanjutnya, tandas Samuel, hasil pengujian dalam penentuan koordinat bumi memakai pelacakan sinyal dengan dua stasiun mempunyai kesalahan sampai 83,20 meter, sedangkan untuk tiga stasiun memiliki kesalahan sampai 14,60 meter.

Menurut Samuel, metode multi-triangulasi lima stasiun pemantau mempunyai kesalahan rata-rata sampai 6,63 meter dengan jarak maksimum posisi sumber sinyal frekuensi radio yang dicari dari titik stasiun pemantau tidak bergerak adalah 50 kilometer. [Humas UGM/Ika/rts]