Sajarwa dan Kecintaannya Terhadap Sastra Prancis

160
Sajarwa sebenarnya lebih gemar mengembangkan keilmuan dengan melakukan riset bersama mahasiswa. Foto: Maulana/KAGAMA
Sajarwa sebenarnya lebih gemar mengembangkan keilmuan dengan melakukan riset bersama mahasiswa. Foto: Maulana/KAGAMA

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Perbedaan budaya menjadi fokus tantangan dalam pengembangan penerjemahan dan kebudayaan.

Hal ini menjadi cita-cita besar Dr. Sajarwa, M.Hum untuk menghadapi tantangan tersebut.

Sastra Prancis menjadi salah satu wadah baginya untuk mengembangkan penerjemahan, sekaligus sebagai bidang keilmuan yang digemarinya.

Ketertarikannya terhadap Sastra Prancis sejak SMA, menjadi gerbang Sajarwa berkarier sebagai dosen dan Ketua Program Studi (Kaprodi) S1 Sastra Prancis UGM.

Selama berkarier, Sajarwa mengarahkan Prodi untuk melakukan banyak kegiatan pengabdian yang melibatkan mahasiswa.

Sajarwa lebih menekankan pada kegiatan pemberdayaan kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan.

Salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat yang belum lama ini dilakukan yaitu pelatihan bahasa Prancis kepada tenaga kerja di kampung homestay kawasan Candi Borobudur.

Kebetulan kampung homestay tersebut ramai disewa oleh wisatawan mancanegara, salah satunya dari Prancis.

Tahun berikutnya, pemberdayaan kembali dilakukan di Homestay Selo Boyolali, dengan karakteristik wisatawan yang berbeda.

Kali ini wisatawan kebanyakan tertarik mendaki Gunung Merapi.

Tentunya pelatihan disesuaikan dengan ketertarikan wisatawan, yaitu seputar pendakian gunung.

Oleh sebab itu, kata Sujarwa, pelatihan bahasa mengikuti kebutuhan masyarakatnya.

Ada juga kerja sama Prodi Sastra Prancis dengan salah satu badan pelatihan kerja di Kulonprogo.

Prodi ditugasi pemerintah untuk menyiapkan tenaga-tenaga muda ahli berbahasa Prancis, terkait kebutuhan untuk bandara baru.

Harapannya pelatihan bahasa bisa memudahkan komunikasi tenaga kerja bandara dengan wisatawan.

Sinergi dengan Dunia Kerja

Sinergi antara materi perkuliahan dengan kebutuhan dunia kerja, hingga saat ini masih menjadi tantangan Prodi Sastra Prancis.

Sajarwa bersama timnya kemudian mencanangkan program magang bagi mahasiswa untuk mewujudkan sinergi tersebut.

Belum lama ini dirintis program magang kerja di kedutaan besar yang sudah diikuti beberapa mahasiswa Sastra Prancis.

Selain belajar bekerja, mahasiswa ditugasi untuk melakukan survei terkait berbagai pekerjaan baru yang membutuhkan lulusan Sastra Prancis.

“Ini nantinya jadi masukan untuk membenahi kurikulum. Jadi, lulusan Sastra Prancis tidak hanya menjadi penerjemah atau pengajar saja,” ujar pria asal Klaten itu.

Sedikit demi sedikit, cakupan bidang kerja alumni Sastra Prancis semakin meluas.

Selain di bidang penerbitan dan akademisi, bidang kerja lulusan Sastra Prancis saat ini meliputi jurnalistik, wiraswasta, dan perhotelan.