NOVIANI Lestari (22), dara kelahiran Bantul, 23 November 1994 tak menyangka dirinya bisa mencecap ilmu di Universitas Gadjah Mada (UGM). Peraih beasiswa Bidik Misi ini menyelesaikan masa studinya selama 4 tahun 5 bulan dengan predikat cumlaude.

Selama kuliah, Novi naik angkutan umum dari rumahnya di Trimurti, Srandakan, Bantul, DIY. Perjalanan selama kurang lebih dua jam dengan jarak sekitar 25 km ditempuhnya dengan tanpa sungkawa. “Saya kuliah untuk memperbaiki nasib keluarga,” katanya.

Kesehariannya dihabiskan untuk belajar, memberi makan kambing, dan membantu ibunya yang bekerja sebagai buruh tani. Ayahnya, Mujiya, telah tiada dua tahun sebelum Novi kuliah. Hal ini semakin memotivasi dirinya untuk selalu bersemangat.

“Di UGM saya diberi kesempatan bertemu dan belajar dengan orang-orang hebat,” tuturnya seusai mengikuti prosesi Wisuda Sarjana/Diploma Periode II Tahun Akademik 2016/2017 pada Kamis (16/2/2017) di Balairung, Bulaksumur, Sleman – DIY.

Berbeda dengan teman-temannya semasa SMA, Novi dengan mantap memilih Jurusan Sastra Jawa. Sedari kecil memang dirinya menyenangi kebudayaan Jawa. Terbukti, selama kuliah, berbagai torehan prestasi diraihnya. Antara lain, Novi pernah menyabet juara lomba cerkak (cerita pendek berbahasa Jawa) tingkat mahasiswa se-DIY dalam rangka Dies Natalis Pascasarjana UGM, dan juara harapan satu lomba cerkak umum dalam rangka launching Grhatama Pustaka, Yogyakarta.

Tak hanya itu, karya-karyanya juga sering muncul di berbagai media berbahasa Jawa seperti Djaka Lodhang, Panjebar Semangat, Solopos, Pagagan, dan sebagainya. “Honornya bisa buat tambahan naik bus,” kelakarnya.

Selama prosesi wisuda Novi didampingi ibunya, Badingah (52) dan adiknya, Zuli Sara Widarti (20) yang tengah menempuh kuliah di Fakultas Pertanian UGM. Seperti kakaknya, Zara yang sudah duduk di semester enam, juga mendapatkan beasiswa Bidik Misi.

Badingah yang hidup menjanda sejak 2010 merasa sangat bersyukur kedua putrinya dapat kuliah di UGM dengan biaya dari beasiswa Bidik Misi. Karena, ia yang hanya butuh tani hidup dalam kekurangan. Padahal, biaya transportasi ke kampus sedikitnya menghabiskan Rp 40 ribu per hari. Berkat Bidik Misi maka baik Novi maupun Zara dapat membiayai transport kuliah mereka masing-masing.

“Novi dan Zara tiap hari naik bus dari rumah ke kampus. Sekali terlambat, tak bisa kuliah. Kalau ada kuliah sore, Novi numpang tidur di kos temannya,” ujar Badingah dengan nada haru.

Sebagai single parent, Badingah mengaku tidak keras kepada kedua anaknya. Tapi, ia tetap tegas dan menanamkan disiplin, misalnya dengan mengawasi mereka saat belajar dan selalu mengontak ponsel Novi dan Zara jika belum kelihatan di rumah. [Taufiq Hakim/R Toto Sugiharto]