Saat Kuliah, Jokowi Sosok Netral Pemersatu ‘Merah’ dan ‘Hijau’

21
Jokowi (paling tinggi) dalam ekspedisi Gunung Kerinci 1983 bersama Mapala Silvagama Fakultas Kehutanan UGM).(Foto: Mapala Silvagama)
Jokowi (paling tinggi) dalam ekspedisi Gunung Kerinci 1983 bersama Mapala Silvagama Fakultas Kehutanan UGM).(Foto: Mapala Silvagama)

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Jelang dan usai Pemilu 1982, suasana politik nasional memanas. Dampaknya bahkan dirasakan hingga dalam kehidupan lingkungan kampus.

Melalui buku Kerinci 1983: Jokowi Traveling Story, digambarkan panasnya situasi politik  tersebut terjadi di UGM.

Saat itu, suasana politik kampus diwarnai persaingan antara dua organisasi berhaluan Nasionalis dan Islamis.

Kelompok nasionalis diwakili Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan kelompok berhaluan Islamis diwakili oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Kedua haluan politik ini saling berebut pengaruh dan kepemimpinan di berbagai lembaga dan organisasi kampus.

Launching Buku Kerinci 1983: Jokowi Traveling Story pada Kamis (11/04/2019) di Kopi Gajah, Sleman.(Foto: Iqbal Aji Daryono)
Launching Buku Kerinci 1983: Jokowi Traveling Story pada Kamis (11/04/2019) di Kopi Gajah, Sleman.(Foto: Iqbal Aji Daryono)

Buku berisi kisah pendakian Gunung Kerinci yang dilakukan oleh Jokowi dan 13 rekannya di dalam Mapala Silvagama Fakultas Kehutanan ini juga menggambarkan situasi tersebut.

Persaingan dua haluan politik ini terjadi bahkan mulai dari perebutan kepemimpinan ketua angkatan jurusan, hingga pemilihan anggota senat mahasiswa.

Bahkan, dalam kepengurusan Mapala Silvagama pun tak kalah panasnya. Keduanya saling beradu pengaruh.

“Katika para anggota Silvagama berkumpul di kos, misalnya, kader-kader GMNI dan HMI sama-sama mengintai,” tulis Rifqi Hasibuan dan Iqbal Aji Daryono dalam buku tersebut.

Namun di tengah situasi politik demikian, saat itu Jokowi justru tidak ikut dalam pusaran kedua haluan politik tersebut.

Jokowi justru menjadi sosok yang netral dan boleh dibilang menjadi jembatan pemersatu bagi keduanya.