DRS. Riyadi Santoso, M.Si yang saat ini menjabat sebagai Ketua Asosiasi Analis Kebijakan Indonesia (AAKI) merupakan alumnus jurusan Administrasi Negara (sekarang Manajemen dan Kebijakan Publik) Fakultas Ilmu Sosial Politik UGM. Riyadi, panggilannya, masuk menjadi mahasiswa di tahun 1983 dan lulus pada 1989. Sejak mahasiswa Riyadi memang sudah aktif dan banyak pengalaman organisasinya.

Ditemui di Digilib Cafe Fisipol, seusai mengisi bincang dengan GAMAPI (Keluarga Mahasiswa Manajemen dan Kebijakan Publik), Riyadi menceritakan apa saja kegiatan yang dulu dilakukan selama mahasiswa. Duduk di kursi kayu Riyadi mulai bercerita dengan santai. Riyadi yang memang ramah senyum itu menceritakan kenangan-kenangan organisasinya dulu.

“Dulu saya aktif di Jamaah Salahuddin juga. Kalau yang di fakultas saya sering ikut kepanitiaan event seperti seminar,” kenangnya.

Riyadi di sela-sela bercerita sempat menyebutkan beberapa nama mahasiswa yang dulu menjadi kawan seperjuangannya, “Saya bersama Yahya Cholil Staquf, Arif Afandi, dan Priyo Budi Santoso menghidupkan Jamaah Salahuddin dan mushola Fisipol mulai tahun 1986 atau 1987. Saya bahkan ikut menyusun kurikulum asistensi agama di bagian tauhid,” kenangnya bersemangat.

Riyadi juga rupanya sempat menorehkan kenangan bagi jurusan Administrasi Negara (AN). Riyadi dan kawan-kawan menggelar acara di tingkat nasional bagi mahasiswa Jurusan AN di tahun 1989. “Di Kaliurang tempatnya. Waktu itu panitianya Mas Agus Heruanto Hadna, Mas Priyo juga. Kita mendirikan Pesatuan Mahasiswa Administrasi Indoensia (PERMADI).” Pertemuan di Kaliurang saat itu dihadiri 77 Perguruan Tinggi se-Indonesia bahkan sampai Papua.

“Waktu rektornya Prof. Koesnadi Hardja Soemantri, saya dulu dibekali 18 surat untuk keliling ke Jakarta menemui alumni Administrasi Negara selama seminggu. Tanggapan mereka bagus dan solid,” Riyadi tersenyum saat mengenang dirinya bersama beberapa teman lainnya harus ke Jakarta untuk mencari dana untuk suatu kegiatan.

“Teman-teman sekarang memiliki kesempatan lebih luas untuk berkiprah. Kita perlu mengasah organisasi. Sebagai upaya pembelajaran organisasi, kita perlu mengkritisi pemerintah karena kadang politik itu kebablasan dan malah membuat gaduh,” ucapnya memberi semangat kepada mahasiswa agar tidak takut menjelajahi pengalaman organisasi. [Ashilly Achidsti]