Selain lokasi tersebut sebagaimana dijelaskan Prof. Oemi Haniin Soeseno dalam laporannya, UGM memiliki banyak lahan kosong yang ditanami tanaman palawija seperti kacang tanah, ketela pohon, ketela rambat dan lain-lain oleh beberapa karyawan Universitas.

Namun lama kelamaan tanaman tersebut tidak terurus dan mengganggu aktivitas kampus, terutama saat kemarau. Akhirnya, rektor yang menjabat saat itu pada 1977 memutuskan untuk menanam pohon-pohon yang cepat tumbuh besar di lahan kosong tersebut.

Oemi Hani'in (depan kiri) sedang menerima tamu di Wanagama. (Foto: Dok. Fakultas Kehutanan UGM)
Oemi Hani’in (depan kiri) sedang menerima tamu di Wanagama. (Foto: Dok. Fakultas Kehutanan UGM)

Rektor berharap pohon-pohon tersebut dapat menciptakan suasana kampus yang sejuk, berudara segar dan mengurangi penghanyutan tanah sehingga mengurangi pendangkalan selokan oleh lumpur. Selain itu ia berharap pohon tersebut bisa dijadikan alat peraga untuk mahasiswa kluster agro.

Sistem penanaman yang digunakan pada saat itu ialah tumpangsari. Jadi penggarap tanah diberi izin untuk menanam palawija di antara larikan tanaman pohon dalam 1 tahun.