Riwayat Jogja sebagai Kota Batik Dunia

81

Baca juga: Sumbangsih KAGAMA Wujudkan Reformasi 1998

“Perlengkapan administrasi Jogja lebih memenuhi syarat. Sejarah batik di sini juga panjang. Sejak Jaman kerajaan. Jogja juga punya balai pengembangan batik di Semaki. Juga ada kurikulum membatik untuk siswa SD sekitar tahun 2006,” ujarnya saat ditemui KAGAMA, belum lama ini di ruang kerjanya.

Ronni bercerita, kurikulum membatik bagi siswa SD awalnya merupakan bagian dari kegiatan ekstrakurikuler dari sebuah sekolah di daerah Gunung Kidul Timur yang dulunya merupakan wilayah para pengrajin batik.

Seiring berjalannya waktu, bisnis batik mulai lesu.

Alih-alih menyerah, warga Gunung Kidul Timur justru bekerja sama dengan pihak sponsor guna memberi pendidikan batik bagi siswa Sekolah Dasar.

Langkah ini dinilai mampu mebangkitkan semangat para pengrajin untuk melestarikan tradisi membatik.

Baca juga: Jogja Aman dan Nyaman bagi Warga Papua

Tak ayal Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul dan Bantul pun menyambut baik.

Bermula dari kegiatan ekstrakurikuler, kini kegiatan membatik sudah masuk ke kurikulum SD di dua daerah tersebut.

Kebijakan ini rupanya mendulang rasa simpatik dari perwakilan WCC yang datang ke Yogyakarta.

“Perwakilan WCC Saya ajak ke sini. Beliau melihat pelaksanaan kurikulum, datang ke pengrajin bertemu gubernur, menyaksikan pertunjukan yang semua performernya menggunakan batik,” jelas Ronni.

Pemberian penghargaan sebagai kota batik tentu tak serta merta mempercepat laju industri batik di Kota Gudeg.

Baca juga: Membangun Jogja yang Aman dan Nyaman dengan Nilai-nilai Budaya Istimewa

Oleh sebab itu, berbagai langkah konkret sudah dilakukan.

Ronni menjelaskan, kini di DIY sedang digiatkan industri batik ramah lingkungan yang minim air.

Parktik tersebut digalakkan melalui kerja sama dengan lembaga internasional.

Selain itu, sebuah SMK batik juga sudah didirikan di daerah Gunung Kidul Timur.

“Secara bisnis, kita memang kalah dengan Magelang dan Solo. Akan tetapi, melihat persebarannya, kami berharap Jogja bisa menjadi pintu masuk batik bagi seluruh wilayah Indonesia melalui bantuan WCC,” pungkas alumnus Fakultas Hukum UGM itu. (Venda)

Baca juga: Orang-orang Muda ini ke Jogja Cari Ilmu untuk Bangun Papua