Risky Nurhikmayani, Berkat Doa Orang Tua Raih IPK 4.00

14

Dosen-dosen UGM dianggap Risky lebih rajin masuk ke kelas. Selain itu, ia juga harus membiasakan diri mendengar percakapan dalam bahasa Jawa di dalam kelas atau pun pergaulan sehari-hari. Belum lagi gaya tutur bahasa Indonesia ala Jogja yang dianggapnya berbeda dengan daerah tempat ia dibesarkan.

“Di daerah saya kalau meminta orang lain menunggu, kita akan bilang ‘nanti’, sementara di sini ‘sebentar’, itu membuat saya harus berpikir dulu sebelum bicara agar tidak disalahpahami,” tuturnya sembari tertawa kecil.

Beruntungnya perjuangan Risky tidak berakhir sia-sia. Buktinya, selain berhasil mendapatkan Beasiswa Unggulan selama menempuh jenjang perkuliahan,  perempuan penggemar anime dan permainan digital ini sukses memperoleh IPK 4.0 dengan  masa studi 1 tahun 10 bulan 13 hari.

Ia berhasil lulus selepas mempertahankan tesis yang membahas tentang identifikasi bakteri  asam laktat dalam makanan Chao, kuliner hasil fermentasi khas daerahnya. Menariknya, Risky mengaku tak punya kiat khusus untuk cepat lulus dan mendapat nilai sempurna.

Ia mengaku tak rajin-rajin amat belajar. Waktunya banyak dihabiskan untuk menonton anime dan bermain permainan digital. Akan tetapi, ia mengaku selalu minta doa kepada orang tuanya agar proses studinya dimudahkan.

“Mungkin doa orang tua yang membuat saya begini,” pungkas perempuan yang bercita-cita menjadi dosen ini.[Venda]