Relawan Canthelan Alumnus Agribisnis UGM: Berbagi karena Kemauan, Bukan Kemampuan

136

Baca juga: Filsafat UGM Membuat Widyasari Listyowulan Belajar untuk Tidak Menyerah

Sejauh ini, Tyas dan relawan lainnya sedang memperbanyak bibit tanaman dan pupuk.

Singkat cerita, wiraswasta di bidang usaha jahit pakaian itu sudah sejak lama ingin berbagi dengan sesama lewat gerakan sosial. Namun, dia sempat ragu beraksi karena keterbatasan dana.

Setelah melihat salah satu kawannya yang menjadi relawan gerakan canthelan di suatu daerah, Tyas kemudian mengadopsi gerakan ini untuk membantu masyarakat di wilayah tempat tinggalnya.

Pada bulan Mei, Tyas mendapatkan dana stimulus dari KAGAMA Care dan donasi mie instan untuk disalurkan ke warga yang membutuhkan.

Di bulan Mei 2020 ini, Tyas memulai gerakan canthelan di Kleben dengan menggantungkan paket sembako di beberapa titik strategis.

Baca juga: 5 Destinasi Wisata Super Prioritas yang Jadi Fokus Dua Menteri KAGAMA

“Pada masa awal canthelan dijalankan, bantuan yang kami bagikan hanya 9 paket dengan relawan yang turun ke lapangan sekitar 3 orang.

“Gerakan ini terus berkembang, seiring dengan banyaknya warga sekitar yang ikut berpartisipasi dan donasi dari berbagai pihak,” ujar alumnus Agribisnis UGM angkatan 2000 ini.

Di tengah jalan, relawan canthelan sempat terkendala dana untuk kembali menjalankan kegiatannya.

Tyas bersama para warga kemudian berpikir untuk membuat bahan makanan sendiri, yaitu dengan membuat bumbu pecel dan srundeng, sehingga pengeluaran untuk membeli bahan dapat diminimalisir.

“Jadi kami juga berusaha untuk tidak tergantung pada donasi yang masuk. Kebetulan juga saya punya usaha jahit, jadi kalau terima donasi kain Saya langsung jahitkan menjadi masker.”

Baca juga: Darah Wonosobo Mengalir dalam Diri Raja Pertama Kesultanan Mataram