Rektor Universitas Widya Mataram: Indonesia Masih Membutuhkan Unicorn-Unicorn Rintisan Generasi Muda

2
Rektor Universitas Widya Mataram: Indonesia Masih Membutuhkan Unicorn-Unicorn Rintisan Generasi Muda.(Foto: Taufiq)
Rektor Universitas Widya Mataram: Indonesia Masih Membutuhkan Unicorn-Unicorn Rintisan Generasi Muda.(Foto: Taufiq)

KAGAMA.CO, YOGYAKARTA – Beberapa start up (perusahaan rintisan) terbesar di Indonesia atau yang disebut dengan unicorn, didirikan dan dimiliki oleh anak-anak muda. Indonesia masih membutuhkan unicorn-unicorn hasil rintisan para generasi muda.

Demikian disampaikan Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec saat Rapat Senat Terbuka Wisuda Sarjana ke-54 Semester Ganjil Tahun Akademik 2018/201, pada Sabtu (09/03/2019) di Sahid Jaya Hotel, Babarsari, Yogyakarta. Dalam kesempatan tersebut, Rektor mewisuda sebanyak 339 lulusan.

Rektor melanjutkan, saat ini Indonesia sedang menghadapi gelombang industri 4.0. Sebuah era dimana kita tidak lagi hanya berkompetisi dengan sesama manusia, akan tetapi berbagai kecerdasan teknologi buatan yang siap menggantikan peran manusia.

Alumnus Fakultas Ekonomi (sekarang FEB) UGM ini mencontohkan salah seorang pengusaha terkaya di dunia, Jack Ma yang memiliki sebuah restoran dengan hampir seluruh pelayannya adalah sebuah robot.

Rektor Universitas Widya Mataram: Indonesia Masih Membutuhkan Unicorn-Unicorn Rintisan Generasi Muda.(Foto: Taufiq)
Rektor Universitas Widya Mataram: Indonesia Masih Membutuhkan Unicorn-Unicorn Rintisan Generasi Muda.(Foto: Taufiq)

“Di Tiongkok bahkan saat ini telah ada Pembaca Berita (News Ancor) yang dilakukan bukan oleh manusia, melainkan oleh teknologi kecerdasan buatan,” imbuh Rektor.

Maka dari itu, pihaknya sangat mendorong para wisudawan untuk beradaptasi dengan baik atas perubahan yang terjadi. Jika gemar berbisnis, contoh Rektor, hendaknya merintis perusahaan-perusahaan dan ditekuni dengan baik. Rektor pun menilai anak-anak muda sekarang ini cenderung gemar berbisnis.

Membawa Semangat Yogyakarta

Rektor melanjutkan, UWM ikut terlibat langsung dalam pengembangan pendidikan di tanah air. Sejak didirikan tahun 1982 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan KGPH Mangkubumi, UWM telah memberikan kontribusi nyata untuk pembangunan pendidikan di Indonesia. Saat ini, UWM telah memiliki 5 fakultas dan 10 prodi, seluruhnya telah terakreditadi BAN-PT. Sejak awal hingga sekarang ini, jumlah lulusan UWM telah berjumlah 8.302 orang.

Dalam kesempatan tersebut, Anggota Pengawas Yayasan Mataram Yogyakarta Prof. Dr. H. Djoko Suryo, MA berpesan kepada para wisudawan agar mengabdikan segala pengetahuan dan pengalaman untuk masyarakat.

“Tunjukan tunjukan integritas lulusan UWM yang berakhlak, berbudi luhur, jujur, tulus, gigih, ulet, bertanggung jawa,  berprestasi dan mampu bersaing, serta mengabdi pada kepentingan masyarakat dan bangsa,” ujar Guru Besar Ilmu Sejarah UGM ini.

Djoko juga berpesan agar para wisudawa  membawa semangat dan amanat Yogyakarta sebagai kota kebudayaan pada setiap tempat pengabdian. Menurut Djoko, Jogja sebagau serambi kebudayaan mengajarkan karakter, toleransi, dan keharmonisan  parayang didasarkan pada filosofi leluhur, terutama leluhur Keraton Yogyakarta.

Prosesi wisuda berlangsung dengan nuansa khas Mataraman. Saat memasuki ruang wisuda, para wisudawan diirngi dengan Bregasa Mataram, dan dimeriahkan pula oleh pertunjukan Tari Anurogo.

Turut hadir dalam acara jajaran pengurus Yayasan Mataram Yogyakarta, Kepala Lembaga Layanan Dikti DIY Dr. Ir. Bambang Supriyadi, CES., DEA, perwakilan Polda DIY, fungsionaris senat Universitas, dan jajaran pejabat Universitas.(Taufiq Hakim)