Sehingga, dasar-dasar tarian telah cukup dikuasai oleh masing-masing individu dalam tim keberangkatan diplomasi ini. Selama proses latihan koreografi terhitung sejak bulan November hingga sekarang.

“Tim Keberangkatan Taiwan rutin melakukan latihan setiap enam kali dalam seminggu. Sejauh ini, kesiapan tim sudah sangat matang. Kami akan memberikan penampilan yang terbaik bagi masyarakat Taiwan,” ujarnya.

Keikutsertaan Rampoe UGM dalam festival seni budaya di Chiayi, Taiwan ditujukan untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia di kancah Internasional. Selain sebagai bentuk pelestarian kesenian tradisional, mahasiswa berkesempatan ikut andil dalam memperkenalkan kebudayaan Indonesia di kancah Internasional.

“Sebelumnya Rampoe UGM juga pernah menjalin kerja sama dengan Pemerintah Taiwan, khususnya pada pemerintah Kota Tainan saat agenda Nan Ying International Foklore Festival 2016,” tutur Krisna Sella selaku Humas Rampoe UGM.

Berbagai apresiasi dan prestasi yang membanggakan telah diraih oleh Rampoe UGM sejak tahun 2010. Terdapat kurang lebih 25 jenis penghargaan baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Selain itu, Rampoe UGM juga telah mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional, seperti Malaysia (2011, 2014 dan 2016), Belgia (2013 dan 2014), Perancis (2014), Taiwan (2016), Spanyol (2016) dan Republik Ceko (2016). Keikutsertaan Rampoe UGM di kancah internasional membuktikan bahwa Indonesia sebagai negara penuh budaya yang diakui oleh masyarakat dunia.

Rampoe UGM yang juga merupakan organisasi minat bakat terbaik dan terproduktif di Universitas Gadjah Mada pada tahun 2015 dan 2017 ini akan terus menjalankan misi diplomasi budaya untuk mempromosikan seni budaya Indonesia ke mata dunia. Dalam waktu dekat ini, Rampoe UGM juga akan bersiap menyelenggarakan kegiatan festival dan lomba tari tradisional serta berencana kembali melakukan misi diplomasi budaya di Timur Tengah dan Eropa sekitar bulan Oktober hingga Desember 2018 mendatang. [Humas RAMPOE UGM]