Rakhmat Soleh Disangka Orang Jepang

41

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Raut mukanya nyaris sama dengan wajah orang Jepang.

Perawakannya yang cukup besar dan tinggi semakin menambah kemiripannya dengan orang Jepang.

Dia adalah Drs. Rakhmat Soleh, M. Hum, profesinya sebagai dosen program studi Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM membawanya ke Negeri Matahari Terbit pada 2010-2012.

“Iya, sempat dikira orang Jepang.”

“Awalnya diajak ngomong dalam bahasa Jepang. Kecenderungan orang Jepang memang kalau bicara dalam bahasa Jepang,” ucapnya membuka obrolan dengan KAGAMA beberapa waktu lalu.

Kedatangan Rakhmat Soleh pada 2010 melaksanakan tugas dari program kerja sama FIB UGM yaitu mengajar di Tokyo Gaikokubo Daigaku atau Tokyo University of Foreign Studies.

Rakhmat mengajar selama dua tahun, dari 2010 hingga 2012 di perguruan tinggi khusus mengkaji bahasa asing itu.

Dalam rentang dua tahun, Rakhmat menjumpai bulan Ramadan dan tetap beribadah puasa.

Selama dua tahun, Rakhmat menempati apato (apartemen) di pinggiran Tokyo.

Untuk ke kampus tempat ia mengajar yang lokasinya relatif jauh dari apato, ia naik kereta hingga dua kali.

Sedangkan untuk mencapai masjid berjarak 60 kilometer, ia juga harus menumpang kereta dan transit hingga tiga kali.

Di kampusnya tersedia kajian berbagai bahasa, antara lain bahasa-bahasa dari negara Asia Tenggara, kecuali Brunei Darussalam dan Timor Leste.

Bahasa Asia Tenggara paling disukai mahasiswa, sementara peminat paling banyak pengkaji bahasa Indonesia, dengan rata-rata jumlah mahasiswa 20 orang per angkatan.

Saat itu Rakhmat menikmati puasa dengan durasi waktu lebih panjang satu hingga dua jam jika dibandingkan dengan durasi waktu berpuasa di Indonesia.

Sementara, apabila bulan Ramadan jatuh pada musim panas, maka durasi waktu puasa lebih panjang lagi.

Keadaan tersebut tidak mengganggu ibadahnya.

“Tempat ibadah nggak sulit. Ada masjid dibangun pemerintah Turki dan terbesar di Tokyo.”

“Namanya Masjid Jami Tokyo, tempat Syahrini akad nikah,” terangnya.

“Ada juga masjid di aula Kedubes yang ramai jamaahnya khusus salat Jumat,” tambahnya.

Kebetulan Kepala Program Studi, Furihata Masashi sudah mengetahui Rahmat sebagai muslim.

Sehingga ia memberikan jadwal untuk Rakhmat setiap Jumat pagi mulai waktu kerja dan sekolah, yaitu jam 09.00 waktu setempat hingga pukul 10.50.

Furihata juga memperhatikan jenis makanan yang halal untuk Rakhmat sebagai muslim.

“Saya pernah datang ke sebuah pesta kecil. Ada kudapan keripik mau saya makan, diperingatkan Pak Furihata.”

“Katanya, itu mengandung minyak babi. Saya bilang, sebenarnya kalau tak diperingatkan bisa halal karena saya tak tahu.”

“Tapi, setelah diingatkan saya tak akan makan lagi karena sudah tahu haram.”

“Jawab Furihata, kalau tak saya peringatkan, saya berdosa,” ucapnya seraya tertawa.

Dalam mendapatkan makanan juga tidak sulit. Untuk antre membeli makan berbuka mulai jam 16.00.

Warung dengan menu Indonesia rata-rata dimiliki orang Jepang dengan mempekerjakan orang Indonesia untuk koki dan pelayan.

Rakhmat mengenali salah satu restoran yang paling enak dengan koki dan pemilik orang Jepang, rumah makan Cabe.

“Warung di Jepang semakin malam memberi diskon semakin besar.”

“Orang banyak memilih belanja pada malam hari menjelang tutup warung karena bisa mendapatkan harga lebih murah. Kebanyakan orang Jepang yang belanja sampai larut malam,” imbuhnya.

Dalam pengamatan Rakhmat, ada nama untuk umbi yang diadopsi dari asumsi asal-usul umbi, yaitu “jaga imo” yang artinya “kentang dari Jakarta”.

Ada kemungkinan jenis umbi tidak tumbuh dan dibudidayakan di Jepang dan dari bentuknya yang mirip kentang serta berasal dari Jakarta, maka umbi tersebut diberi nama jaga imo.

Rakhmat mengaku tidak suka mengobrol dengan penghuni apato, kecuali dengan Farida, salah seorang warga Malaysia karena sama profesi sebagai dosen.

Kadang ia memberi makanan untuk keluarga Farida yang tinggal di apato bersama suami dan kedua anaknya.

Kadang-kadang ia berbuka puasa bersama komunitas Indonesia di Tokyo.

Ada yang mahasiswa dan pekerja.

Sebagian besar pekerja asal Indonesia bekerja di tempat pengemasan dan pemotongan ikan, perawat rumah sakit, dan di rumah makan.

Dalam dua tahun menetap di Jepang, Rakhmat mengenali budaya disiplin orang Jepang yang terbentuk dari sistem kehidupan mereka di kota megapolitan dengan moda transportasi yang ketat, seperti kedatangan kereta tiap lima menit sehingga menuntut orang sudah harus bersiap di tiap-tiap stasiun.

Demikian juga budaya antre di tempat umum. (Toto)