SELAMA kuliah, Raissa Yurizzahra Azaria Harris selalu memasang target. Bagi sulung dua bersaudara ini, tidak ada salahnya menjadi pribadi yang ambisius. Ia pun selalu berusaha sebaik mungkin untuk memenuhi target tersebut. Dan, benar, ketekunan dan kerja kerasnya selama ini menghantarkannya menjadi satu dari wisudawan dengan IPK tertinggi (3,99) periode IV, 2017.

Sejak duduk di bangku SMA, dara kelahiran Cirebon 5 April 1995 ini mulai melirik Fakultas Hukum UGM sebagai tempat yang tepat untuk meraih mimpi-mimpinya. Menurut Raissa, sapaan akrabnya, Fakultas Hukum yang dikenal dengan prestas-prestasi para mahasiswanya semakin membuatnya mantap.
“Saat SMA sering mengikuti perlombaan debat bahasa Inggris. Lalu mulai tertarik dengan hukum dan politik. Memilih FH UGM karena program internasionalnya yang memungkinkan untuk dapat mengasah kemampuan berbahasa Inggris dan mengikuti kegiatan internasional,” ungkap lulusan IUP Fakultas Hukum UGM ini kepada KAGAMA, Rabu (23/8/2017) usai prosesi wisuda.
Raissa Yurizzahra Azaria Harris (22) dari suka debat berbahasa Inggris akhirnya tertarik pada ilmu hukum dan politik (Foto Nurrokhman/KAGAMA)
Raissa Yurizzahra Azaria Harris (22) dari suka debat berbahasa Inggris akhirnya tertarik pada ilmu hukum dan politik (Foto Nurrokhman/KAGAMA)

Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pelajar pun membuat Icha terkesan. Hampir tiap hari ia bercengkerama dengan teman-temannya, bahkan sampai larut malam. Terlebih ketika mengikuti kompetisi, penyuka novel ini kerap menginap di rumah temannya. Bagi Raissa, skala prioritas adalah hal yang penting, pun membagi waktu. Karenanya, dalam keseharian Raissa sebagai mahasiswa, harus seimbang antara kegiatan akademis dan sosial.

Raissa tinggal bersama adiknya yang tengah menempuh studi di Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Selama kuliah, ia banyak mengikuti kegiatan, baik organisasi maupun kompetisi nasional dan internasional. Pada 2014-2015, ia bertugas sebagai Coordinator of Legal Training and Events dalam organisasi Asian Law Students’ Association (ALSA). Raissa mengurusi beberapa acara yang bertajuk hukum, antara lain seminar dan workshop.

Tak hanya itu, sederet prestasi juga pernah ditorehkan anak dari pasangan Harris Saiful Haq dan Yuyun Rohayani ini. Antara lain, ia pernah memenangkan kompetisi International Client Consultation Competition di Yogyakarta (2013), masuk dalam 15th Rank Best OralistInternational Maritime Law Arbitration Moot Court di Melbourne (2015), menjadi Mahasiswa Berprestasi UGM (2015), dan baru-baru ini menjadi delegasi terbaik dalam Rome Model United Nations di Roma, Italia (2017).

Raissa bersama ayah, Harris Saiful Haq dan ibu, Yuyun Rohayani, tengah menyiapkan berkas untuk pengurusan beasiswa guna melanjutkan studi (Foto Nurrokhman/KAGAMA)
Raissa bersama ayah, Harris Saiful Haq dan ibu, Yuyun Rohayani, tengah menyiapkan berkas untuk pengurusan beasiswa guna melanjutkan studi (Foto Nurrokhman/KAGAMA)

Dengan capaian-capaian itu, Raissa merasa senang, pastinya karena dapat membahagiakan kedua orang tuanya. Raissa pun mengaku, selama berkuliah di universitas Pancasila ini kedua orang tuanya tak pernah memaksakan dirinya. “Karena memang harus balance antara kegiatan akademis dan juga sosial,” imbuh Raissa, yang mengambil konsentrasi Hukum Dagang Internasional.

Kendati demikian, Raissa merasa masih ada banyak hal yang harus dikerjakan. Penyuka Harry Potter ini ingin terjun di dunia kerja untuk mengasah keterampilan dan mengimplementasikan teori-teori yang telah ia dapatkan di kampus. Saat ini Raissa sedang mencari pekerjaan. “Saya ingin tidak bergantung secara finansial kepada orang tua,” tandas Raissa, yang juga pernah meraih beasiswa selama kuliah ini.

Yuyun Rohayani, ibunda Raissa mengaku sangat bersyukur melihat pencapaian anaknya. Sebagai orang tua, pihaknya selama ini hanya bisa mendukung dan mendoakan. Guru di sebuah SMP Negeri di Cirebon, Jawa Barat ini pun ingin anaknya melanjutkan studi.

Hidup jauh dari orang tua tak membuat Yuyun membatasi aktivitas Raissa. Pihaknya tak pernah menerapkan aturan tertentu yang dirasa protektif. “Kami tidak menerapkan itu. Yang selalu diingatkan tiap pagi ya jangan lupa salat dan berdoa,” pungkasnya. [TH]