Raih IPK Tertinggi di Fakultas Kehutanan, Hobo Ingin Jadi Ahli Konservasi Hidrologi dan Penulis

1075

Baca juga: Keberanian Presiden Sukarno yang Membuat Orang Rusia Terkagum-kagum

Tidak hanya teori, tetapi juga keterampilan lapangan melalui kegiatan praktik lapangan dan organisasi.

“Di awal kuliah Saya tidak menjadi maba yang mainstream. I didn’t join all organization without any consideration,” ungkapnya.

Masa awal kuliah dia gunakan untuk mengenal cara belajar di bidang kehutanan, serta melibatkan diri di organisasi yang menurut Hobo akan menunjang dirinya untuk berkembang.

Hobo juga berpartisipasi di International Forestry Student Association (IFSA).

Di sana dia belajar banyak hal, terutama memperluas scope ilmu kehutanannya secara global.

“Dan yang paling penting, lewat IFSA Saya mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris Saya secara aktif serta berkesempatan untuk mencoba semua peran di keorganisasian, baik sebagai staf media, sekretaris project, hingga project officer,” jelasnya.

Berikutnya dia berkiprah sebagai Ketua himpunan mahasiswa minat Family of Forest Resource Conservation (Forestation).

Baca juga: Guru Besar UGM Ungkapkan Konsep Jagad Biru Rahayu untuk Kelola Sampah

Di sana dia banyak belajar meminpin, berorganisasi, dan mengorbankan banyak waktu untuk kegiatan Forestation yang dia lakukan di Jogja dan di luar kota.

Ada pun kegiatan non akademik lain yang Hobo tekuni antara lain Kelompok pengamat peneliti dan pemerhati (KP3) Herpetofauna, KMKK Bonita, menjadi research assistant, mengajar les privat, dan menjadi freelance translator di Pusat Inovasi dan Kajian Akademik (PIKA) UGM.

“Di tahun ke 3-4 saya fokus untuk mengerjakan skripsi dan menambah pengalaman kerja Saya. Yang jelas, Saya bukan mahasiswa yang bisa pulang siang.”

“Selama empat tahun kuliah Saya harus selalu pulang malam, sekitar jam 9 atau 10 untuk menyelesaikan semua kegiatan akademik dan non akademik Saya,” ungkapnya.

Bahkan di setiap liburan semester, mahasiswa kehutanan selalu menggunakan jatah libur untuk praktik lapangan.

Meskipun melelahkan, tetapi pengalaman tersebut memberinya banyak ilmu dan wawasan.

Tantangan itu masih berlanjut saat Hobo mengerjakan skripsi. Hobo kadang kala alami pasang surut semangat.

Baca juga: Demi Bergabung ke UGM, Prof. Soedomo Lepas Jabatan sebagai Bupati