Rahasia TOEFL yang Belum Banyak Diketahui Publik

241

Baca juga: Bupati Mappi: Semua Harus Fokus Kuliah

Skala CEFR sebagai Parameter Hasil yang Akurat

Adi menjelaskan, jika ingin lebih tepat mengukurnya, lebih baik menggunakan kerangka ukur dari Eropa, yaitu Common European Framework of Reference for Languages (CEFR).

Nilai yang muncul berupa level A1, A2, B1, B2, C1, dan C2.

“Ini merupakan parameter untuk melihat korelasi. Misalnya tes IELTS kalau skornya 7,5 ketika diukur dengan CEFR akan tergambar di huruf tertentu, setara dengan level berapa. Katakanlah B1, huruf tersebut menunjukkan dimensi capaian,” jelas Ketua Prodi Sastra Inggris UGM itu.

Adi mengatakan, hampir semua universitas di seluruh dunia mengacu pada CEFR.

Penjelasan seperti ini dikatakan oleh Adi tidak banyak disampaikan oleh para ahli bahasa.

Baca juga: Sambut Warga Papua di Jogja, Pratikno: Keterbatasan adalah Guru Paling Sempurna

Tetapi, dengan munculnya CEFR, orang tahu ternyata di balik skor tersebut ada dimensi-dimensi yang diukur.

“Kalau dimensi yang diukur jelas, ada deskriptornya, ada skalanya, maka orang akan semakin memahami,” ujar Adi.

Ia kemudian mencontohkan kemampuan menulis bahasa Inggris.

Pada umumnya kemampuan menulis diukur dari bagaimana seseorang menggunakan kohesi dan koherensi, tata bahasa, kosakata atau diksi yang digunakan, serta respon terhadap tugas yang diberikan.

Biasanya gambaran tersebut akan tampak dengan CEFR ini.

Dengan deskripsi, seseorang bisa lebih meningkatkan kualitas bahasanya.

“Kalau ada yang memberi syarat skor 550, kemudian tidak jadi daftar karena skornya cuma 497, itu keliru. Harusnya daftar saja, universitas-universitas di luar negeri sudah paham yang seperti itu. Jadi tidak akan saklek,” jelasnya. (Kinanthi)

Baca juga: KKN UGM Gandeng PP KAGAMA Kembangkan Kawasan Perkotaan Baru Rasau Jaya