Promosi Desa Wisata Perlu Optimasi Penggunaan Teknologi Informasi

6
Desa Wisata Pentingsari.(Foto: visitingjogja.com)
Desa Wisata Pentingsari.(Foto: visitingjogja.com)

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Desa wisata menjadi aternatif bagi masyakarat agar semakin berdaya dan meningkatkan perekonomian. Ia merupakan salah satu bentuk dari smart tourism yang tidak hanya perlu pintar mengelola sumber daya, tetapi juga penguasaan teknologi informasi.

Meskipun beberapa daerah di Indonesia telah memiliki desa wisata, sebagian desa wisata masih menggunakan cara konvensional untuk keperluan promosi wisata. Fitri Rahma Andri dalam tesisnya yang berjudul Analisis ICT Readiness Desa Wisata Dalam Penerapan Smart Tourism di Kabupaten Sleman (2018), melihat optimasi penggunaan teknologi informasi menjadi kunci keberhasilan pemasaran desa wisata.

Bentuk smart tourism yang selama ini diterapkan pada desa wisata adalah ekowisata. Artinya, smart tourism ini dianggap mampu membantu pelestarian sumber daya alam, pemeliharaan kesehatan fisik, dan mental wisatawan, serta memberi manfaat bagi masyarakat lokal.

“Sementara pemerintah menerapkan Community Based Tourism (CBT) untuk pariwisata yang berkelanjutan. Namun, dalam proses pengembangannya penerapan ekowisata ini menemui berbagai kendala,” tulis Fitri dalam tesis yang ia tulis untuk meraih gelaR Magister Teknik Elektro UGM.

Ada banyak persoalan mengapa beberapa desa wisata belum berkembang, khususnya di Kabupaten Sleman. Salah satu kendala yang dialami yaitu rendahnya kuantitas dan kualitas pemasaran desa wisata. Hal itu disebabkan rendahnya penggunaan teknologi informasi oleh pengelola dalam pemasaran dan transaksi secara daring dengan wisatawan.

Padahal sebagian masyarakat sudah cukup familiar dengan akun facebook, instagram, youtube, dan platform media sosial lainnya. Namun, mereka belum memahami penggunaan efektif media sosial untuk pemasaran.

Selain itu, tidak sedikit juga warga yang belum paham menggunakan media sosial secara teknis. Menurut Fitri, berbagai kendala ini bisa menjadi penghambat kesiapan desa wisata untuk bersaing secara global, sehingga berakibat pada menurunnya jumlah kunjungan.