YOGYAKARTA, KAGAMA – Pembangunan bandar udara (bandara) New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulonprogo saat ini mencapai progres sekitar lima persen. Namun, bandara berskala internasional itu dipastikan selesai pembangunan dan dapat dioperasikan pada 2019.

Direktur Utama PT Angkasa Pura I Danang Setyo Baskoro mengungkapkan optimismenya kepada kagama.co usai menjadi narasumber Seminar Bandara Kulonprogo dan Akselerasi Pembangunan Ekonomi Yogyakarta, Jumat (25/8/2017) di The Kasultanan Ballroom Royal Ambarrukmo, Sleman, Yogyakarta.

Seminar yang digelar Paguyuban Alumni SMA Kolese de Britto Yogyakarta dengan moderator A Tony Prasetiantono, Ph. D selaku Presiden Alumni Kolese de Britto, juga menghadirkan Menteri Perhubungan Ir Budi Karya Sumadi yang menyampaikan keynote speech  menggantikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang urung hadir. Narasumber lainnya, adalah Wakil Bupati Kulonprogo Sutejo, menggantikan Bupati Kulonprogo dr Hasto Wardoyo yang juga berhalangan, serta Irhamsyah Pambudi yang menggantikan Menteri Pariwisata Arief Yahya.

“Sampai sekarang ini (progres bandara –red) sifatnya masih sekitar lima persenlah. Insyaallah kami akan berusaha agar tahun 2019 bisa beroperasi. Sekarang aktivitasnya macam-macam. Kita  mendidik untuk mereka bisa bekerja di bandara di semua sektor. Artinya, bisa jadi tukang, pengaman, dan pengusaha, dan sebagainya,” ungkap .

Dikatakannya, daya serap tenaga kerja saat ini dari proses awal pembangunan bandara sudah mencapai 2.200 tenaga kerja. Diperkirakan, setiap ada peningkatan penumpang pesawat mencapai kelipatan 1 juta orang, akan menambah lagi daya serap sedikitnya 2.200 orang.

“Tergantung juga sektor yang ada di sekitar bandara, sudah lengkap nggak. Apa saja yang sudah ada di sekitar bandara. Itu yang mempengaruhi jumlah daya serap tenaga kerja. Dan, pemukiman atau industri jaraknya dari bandara. Semakin menjangkau jauh jaraknya dari bandara, berarti penciptaan lapangan kerja semakin bagus,” terangnya.

Danang menambahkan, pihaknya juga sudah melobi maskapai internasional untuk membuka jalur direct flight ke bandara NYIA. Saat ini sudah mencapai deal dengan tiga maskapai yang siap direct flight ke bandara baru itu, yaitu Emirat Airlane, Etihad Airways, dan Qatar Airways. “Ada tiga maskapai dari Timur Tengah. Sudah deal. Sekarang maskapai dari Timteng hampir semua. Plus buat warga DIY, termasuk haji bisa berangkat dari Yogyakarta, nggak perlu lagi lewat Jawa Tengah,” imbuhnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Kulonprogo Sutejo yang mewakili Bupati Kulonprogo dr Hasto Wardoyo merepresentasikan materi Peran Pemerintah Kabupaten Kulonprogo dalam Mendukung Pembangunan Bandara. Yakni, peran atau otoritas kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah di tingkat daerah, yaitu kabupaten.  Sutejo juga mengungkap kondisi sosial ekonomi masyarakat Kulonprogo dengan angka kemiskinan yang cukup tinggi. Dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kulonprogo dilaporkan data 2015, angka kemiskinan masih lebih dari 21%.

“Memang kami akui angka tersebut masih cukup tinggi. Namun, meski kemiskinan masih tinggi, usia harapan hidup di Kulonprogo juga tinggi, di atas rata-rata warga DIY, yaitu 75 tahun, untuk DIY 74 tahun,” ucapnya.

Karenanya, pihaknya berupaya keras memperjuangkan masyarakat Kulonprogo bisa berusia panjang dan dalam kehidupn sejahtera.

Terkait pembangunan bandara, Pemkab Kulonprogo lebih banyak terlibat dalam persoalan krusial pada proses awal pembangunan bandara, yaitu proses mempersiapkan warga terdampak, terutama proses pembebasan lahan, pengadaan lahan yang menyertakan tanah milik masyarakat.

“Itulah yang sangat krusial dan menjadi bagian dari peran Pemkab memberikan dukungan pembangunan bandara. Kami, dalam hal ini menggunakan dasar hukum penggunaan dan pemilikan tanah untuk bandara, yaitu UU No 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Selanjutnya, berbagai regulasi fari undang-undang tersebut jadi pegangan dan landasan hukum kita untuk melangkah,” ucapnya. [rts]