KAGAMA.CO, BANTUL – Guru Besar Departemen Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik, UGM, Prof. Ir. Wiendu Nuryanti, M. Arch., Ph. D. membuka pameran seni Anarchist Art, Sabtu (18/11/2017) di Rumah Budaya Tembi, Bantul.

“Ibu kota kesenian di Indonesia itu ada di Jogja,” ujar Wiendu saat diwawancara sesaat sebelum pembukaan.

Pernyataan tersebut menurut Wiendu bisa dilihat dari banyaknya pameran seni yang dibalut dialog intelektual di Yogyakarta. Ia melihat pameran seni di Yogya tidak hanya sekedar untuk eksibisi karya namun ada tujuan lain, seperti kritik sosial atau sebagai wujud karya intelektual yang terjadi dalam dunia seni.

Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia bidang Kebudayaan (2011–2014) ini menyampaikan, perubahan zaman yang saat ini tidak terbatas ruang dan waktu tidak menjadi penghambat dalam dunia seni. “Perubahan salah satunya bisa melalui pendekatan seni,” tuturnya. Menurutnya, pendekatan konsep anarkis ini juga bermaksud untuk mendialogkan perubahan zaman secara intelektual. Wiendu pun didaulat membuka acara.  Selain karena kedekatannya dengan para seniman yang terlibat, juga untuk menegaskan pameran seni sebagai pameran dengan nuansa dialek intelektual.

Prof. Wiendu Nuryanti bersama keluarga di bagian depan tengah bersama seniman Yogyakarta [Foto Desti/KAGAMA]
Prof. Wiendu Nuryanti bersama keluarga di bagian depan tengah bersama seniman Yogyakarta [Foto Desti/KAGAMA]
Sementara itu, menurut seniman pematung, Tri Surharyanto, Anarki dalam pameran digambarkan menjadi konsep yang bebas, keluar dari batas, bahkan hingga pada sebuah keliaran. Namun, keliaran menurut definisi pematung ini, berarti sebuah keliaran yang konstruktif.

Pameran seni Anarchist Art merupakan pameran yang menyatukan karya seni kontemporer: lukis, patung, instalasi music, dan seni yang diinisiasi oleh Noor Ibrahim. Ia menginisiasi pameran setelah bertemu dengan Sung Baeg, perupa Korea dan Naoto VaVa, pemusik Jepang dan sepakat melakukan pameran bergilir di Yogyakarta, Busan, dan Tokyo.

Tujuan pameran yang melibatkan banyak pekerja seni tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi kebangkitan Seni Asia. Pameran yang melibatkan 18 pekerja seni itu bisa dinikmati karyanya pada 18-25 November 2017 di galeri seni Tembi Rumah Budaya, Bantul, Yogyakarta. [Desti]