Problematika yang Umum Dialami Mahasiswa Tingkat Akhir

50
Tak bisa dihindari, sehingga satu-satunya yang bisa dilakukan adalah menjalaninya dengan ikhlas, percaya diri, dan terus berusaha. Foto: Istimewa

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Setelah mengarungi masa-masa menyenangkan saat KKN, hidup mahasiswa seketika berubah saat kembali ke kampus.

Mulai dari waktu yang begitu longgar sampai tuntutan mengerjakan skripsi.

Di satu sisi, mahasiswa merasakan kebebasan yang tak pernah ia rasakan di semester-semester sebelumnya.

Namun, di sisi lain ini juga menjadi tekanan tersendiri karena mahasiswa merasa tidak produktif.

Dalam waktu longgar yang dimiliki mahasiswa itu, selain tuntutan mengerjakan skripsi, ada berbagai problematika yang mereka alami.

Tak jarang mahasiswa mulai sering menutup diri, bahkan mengalami stres.

Mulai Jarang Bertemu dan Berkumpul dengan Teman

Hal ini begitu terasa manakala kita memasuki masa terakhir kuliah.

Niatan untuk berkumpul dengan teman terkadang tergantung kita bisa menyempatkan atau tidak.

Katakanlah kita punya waktu luang dan ingin mengajak kumpul.

Tetapi, bagaimana jika teman Anda sibuk mengerjakan skripsi?

Tentulah kita jadi kesepian dan mulai berpikir untuk mengikuti jejak teman Anda.

Melakukan Segala Sesuatu Sendiri

Karena teman mulai fokus dengan kesibukan masing-masing, mau tidak mau mahasiswa terbiasa melakukan segala sesuatu sendirian.

Bilamana sedang mengalami kesulitan, Anda pun perlu berpikir dulu sebelum meminta bantuan pada teman.

Kali ini, Anda mungkin benar-benar merasa sungkan, karena takut mengganggu kesibukannya.

Merasa Lelah Berjuang

Semester-semester sebelumnya, mahasiswa mampu melewati berbagai tugas dari banyak mata kuliah.

Namun, kali ini Anda merasa lelah berjuang hanya untuk satu tugas akhir yaitu skripsi.

Tak bisa dipungkiri, skripsi meskipun hanya satu, tetapi memuat beban besar yang berpengaruh pada kelulusan mahasiswa.

Pada tahap ini, mahasiswa akan dibanjiri revisi dan kritikan dari dosen terkait usaha Anda menyelesaikan skripsi.

Di sini Anda mulai ditantang untuk memperbaiki diri dan tidak mengulang kesalahan yang sama, serta belajar berproses.

Tertekan di antara Teman-teman Seperjuangan

Melihat teman seangkatan rajin mengerjakan skripsi dan lulus duluan, di satu sisi bisa memacu diri, tetapi di sisi lain menjadi tekanan tersendiri.

Anda mulai terburu-buru mengerjakan dan di saat yang bersamaan Anda gelisah.

Skripsi sebaiknya dikerjakan dengan hati tenang dan ikhlas.

Mulai Sensitif dengan Pertanyaan ‘Kapan Lulus?’

Nampak sepele, tetapi satu pertanyaan ini membuat mahasiswa kepikiran selama berbulan-bulan.

Akhirnya mahasiswa mulai menyiapkan segudang alasan untuk menjawab pertanyaan tersebut, atau malah melarang teman untuk bertanya.

Sering Menyendiri

Karena takut dihujani berbagai pertanyaan yang membebani, mahasiswa kemudian lebih memilih menyendiri dan terkadang menutup diri, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Saat itu mahasiswa merasa bahwa orang lain adalah pengganggu.

Mahasiswa hanya butuh waktu sendiri untuk menenangkan diri, sampai ia siap bertemu dengan orang lain.

Bingung Memikirkan Langkah Berikutnya

Berbagai beban pikiran bercampur jadi satu.

Lulus kuliah tidak hanya soal menyelesaikan skripsi dan menerima ijazah.

Tetapi, mahasiswa juga harus memikirkan langkah selanjutnya.

Mencari kerja atau lanjut kuliah lagi? Bila memilih kerja, lalu pekerjaan seperti apa yang dituju?

Bagaimana dengan masa menganggur Anda? Berapa lama dan apakah tabungan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup selama menganggur?

Pikiran-pikiran ini mulai berkecamuk di benak mahasiswa.

Demikian problematika yang umum dialami mahasiswa tingkat akhir. Tak bisa dihindari, sehingga satu-satunya yang bisa dilakukan adalah menjalaninya dengan ikhlas, percaya diri, dan terus berusaha. (Kinanthi)