Presiden Jokowi: Jangan Ada Ego Sektoral dalam Penanganan Covid-19

27
Presiden Joko Widodo meminta jajarannya untuk membuat terobosan baru yang bisa dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat. Foto: Setkab
Presiden Joko Widodo meminta jajarannya untuk membuat terobosan baru yang bisa dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat. Foto: Setkab

KAGAMA.CO, JAKARTA – Presiden Joko Widodo meminta jajarannya untuk membuat terobosan baru yang bisa dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat.

“Terobosan yang dilakukan harus bisa berdampak bagi percepatan penanganan Covid-19. Jangan bekerja secara linier,” jelasnya.

Hal tersebut Presiden sampaikan saat memimpin evaluasi penanganan pandemi pada Senin (29/6/2020) di Istana Merdeka, Jakarta.

Menurut Presiden, saat ini dibutuhkan penanganan dan pengendalian yang terintegrasi, agar kerja sama seluruh pihak memberikan hasil yang efektif bagi penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia.

Integrasi tersebut diterapkan baik di antar kementerian, lembaga, pemerintah pusat, maupun daerah.

Baca juga: Perkuat Kerja Sama Indonesia-Rusia, Presiden Jokowi Tunjuk Konsultan Kehormatan RI di Vladivostok

“Jangan ada ego sektoral di kementerian, lembaga, pemda, apalagi sampai jalan sendiri-sendiri. Ini harus kita hilangkan,” ujar alumnus Fakultas Kehutanan UGM ini.

Sampai saat ini angka penyebaran Covid-19 di beberapa provinsi masih tinggi. Menurut Presiden, perlu ada tambahan tenaga dan peralatan medis yang diperbantukan dari pusat.

Di samping mengupayakan fasilitas dan layanan tambahan, pemerintah di semua level diminta untuk memberi panduan sekaligus mengawasi ke berbagai daerah tentang persiapan menuju normal baru.

Edukasi tentang persiapan normal baru di daerah, tidak hanya dilakukan oleh pemda saja. Dibutuhkan peran pemerintah pusat, untuk turut memberikan panduan sebelum membuka berbagai fasilitas umum dan perniagaan.

“Pastikan semua tahapan dijalankan, baik prakondisi, waktu pelaksanaan, baru kemudian menentukan prioritas sektor yang akan dibuka lebih dulu. Selain itu, harus ada guidance dari pusat gar tidak salah,” tandasnya.

Baca juga: Indonesia Bisa Menjadi Rumah Alternatif bagi Industri Manufaktur Dunia